Hidayatullah.com—Empat belas siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian akhir sekolah menengah atas di negara bagian Bihar, India, akan dites ulang menyusul kecurigaan terjadi kecurangan, kata pemerintah setempat.
Keputusan itu diambil setelah salah satu siswa peraih nilai tertinggi, Ruby Rai, tidak bisa menjawab pertanyaan wartawan televisi; apakah political science itu? Rekaman video wawancaranya meluas lewat YouTube dan menimbulkan kehebohan terutama di Bihar.
Gadis berusia 17 tahun itu mengatakan political science adalah ketrampilan memasak. Tidak hanya itu, dia melafalkan “political science” dengan “prodigal science.”
Kasus kecurangan dalam ujian bukan hal yang jarang terjadi di Bihar.
Dilansir BBC Rabu (1/6/2016), tahun lalu banyak orangtua siswa di Bihar terekam kamera memanjat dinding sekolah untuk memberikan jawaban.
Akibatnya, tahun ini pemerintah setempat yang sangat malu dengan kejadian itu mengumumkan hukuman keras bagi pelaku kecurangan berupa denda dan kurungan.
Rendahnya angka kelulusan dari ujian yang hasilnya diumumkan pekan lalu itu menunjukkan bahwa langkah pemerintah tersebut membuahkan hasil.
Setidaknya demikian menurut pikiran pemerintah, sampai rekaman wawancara Ruby Rai, siswi jurusan budaya, itu ditayangkan.
Pemerintah mengatakan hasil ujian Ruby Rai dan juga Saurabh Shrestha, siswa jurusan sains peraih nilai tertinggi yang diwawancarai di TV tidak bisa menjawab pertanyaan mudah tentang kimia, ditangguhkan.
Kedua pelajar itu, bersama dengan 12 siswa lain yang mendapatkan nilai bagus, sekarang harus mengikuti ujian tertulis dan lisan dihadapan sebuah panel pakar sebelum tanggal 3 Juni. Demikian dikatakan ketua penyelenggaraan ujian sekolah di Bihar, Lalkeshwar Prasad, kepada media India.
Tulisan tangan para siswa juga akan diperiksa guna memverifikasi apakah jawaban dalam ujian tertulis itu dibuat oleh mereka sendiri.*