Hidayatullah.com—Ratusan ton sampah yang diyakini rakyat Amerika Serikat bisa didaur ulang saat ini menumpuk di tempat pengolahan atau langsung dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir, sebab China tidak lagi mengimpor sampah mancanegara.
Tahun 2017, Beijing memutuskan untuk melarang impor 24 jenis sampah –yang kembanyakan sampah daur ulang asal negara–negara Barat. Sampah itu dikapalkan ke pabrik-pabrik di China untuk dibersihkan dan dipakai ulang sebagai bahan mentah. China tahun lalu masih membeli setengah sampah daur ulang AS, dan sejak 1992 mendaur ulang 72 persen sampah plastik dunia, menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Science Advances.
Oleh karena keputusan China menghentikan impor hampir semua sampah kertas dan plastik itu dilakukan tiba-tiba, akibatnya kebanyakan fasilitas pemrosesan sampah di Amerika Serikat kewalahan dan tidak sanggup menampung sampah-sampah tersebut.
“Tak ada satu pun negara, dan jujur, mungkin bahkan tidak ada sekelompok negara pun yang mampu menangani jumlah sampah sebanyak yang biasanya ditangani China,” kata Adina Renee Adler dari Institute of Scrap Recycling Industries di Washington DC kepada AFP seperti dilansir RT Kamis (12/7/2018).
Sampah yang biasanya dikirim ke China sekarang menumpuk di tempat-tempat seperti fasilitas pengolahan di Elkridge, Maryland, di mana berton-ton sampah setiap hari tiba dari ibukota AS. Distrik itu sudah membayar biaya daur ulang $75 perton, dan $46 perton sampah yang dibakar untuk menghasilkan listrik.
“Ada kalanya beberapa tahun silam ketika mendaur ulang biayanya lebih murah. Hanya saja sekarang tidak begitu lagi,” kata Christopher Shorter, direktur pekerjaan umum wilayah Washington DC. Kota tersebut kabarnya sedang memikirkan untuk membebankan biaya sampah ke masyarakat berdasarkan bobotnya.
Bill Caesar, kepala cabang Houston perusahaan pengolahan sampah WCA, memperingatkan bahwa rakyat Amerika harus mulai membayar lebih mahal apabila ingin sampahnya didaur ulang.
Amerika Serikat hanya memiliki kemampuan domestik sedikit untuk mengolah dan mendaur ulang sampah, karena selama berpuluh-puluh tahun biasa mengirim sampahnya ke luar negeri.
“Rahasia busuk dari daur ulang adalah hal ini bergantung dari keinginan Dunia Ketiga untuk melenyapkan sampah-sampah kita, sehingga orang-orang yang katanya progresif itu dapat berpura-pura seolah sikap moral mereka berkaitan dengan sampah telah menyelamatkan dunia,” tulis kolumnis konservatif Daniel Greenfield di majalah Front Page edisi Kamis (12/7/2018) seperti dikutip RT.*