Hidayatullah.com—Sedikitnya tiga diplomat Turki mengajukan permohonan suaka di Jerman, menyusul percobaan kudeta 15 Juli lalu, lapor media di Jerman.
Dilansir Deutsche Welle Jumat (7/10/2016) mengutip laporan koran Süddeutsche Zeitung serta lembaga penyiaran NDR dan WDR, dari tiga permohonan itu salah satunya diajukan oleh atase militer Turki di Berlin.
Aplikasi suaka dibuat setelah pemerintah Turki menolak validasi ratusan paspor diplomatik, menyusul pelengseran besar-besaran atas orang-orang yang dituding berkaitan dengan Fetullah Gulen dan kelompoknya yang dicap pemerintah Ankara sebagai dalang kudeta.
Puluhan ribu anggota polisi, militer, akademik, hakim dan lainnya dipecat atau ditahan dalam kurun beberapa pekan setelah percobaan kudeta. Para diplomat yang ditugaskan di luar negeri juga diburu oleh pihak berwenang Turki dengan tudingan terlibat kudeta.
Di Jerman, delapan diplomat Turki dianggap dokumen perjalanannya tidak lagi valid oleh otoritas Turki, setelah mereka dituding memiliki sangkut-paut dengan kelompok Fethullah Gulen.
Dari delapan orang itu, sedikitnya tiga dilpomat telah mengajukan suaka di Jerman, lapor media mengutip keterangan sumber di kementerian dalam negeri. Mereka juga mengatakan bahwa diplomat Turki yang mencari suaka di Jerman bisa jadi lebih banyak jumlahnya.
Media Jerman menyebut nama Kolonel Ayhan Dagli, atase militer Turki di Berlin, sebagai salah satu dari tiga pejabat diplomatik Turki yang mengajukan suaka. Kabarnya dia menghilang bersama istrinya menyusul kudeta yang gagal bulan Juli silam.
BAMF, kantor urusan migran dan pengunsi di Jerman, mengatakan pihaknya belum memutuskan apakah akan menerima suaka pejabat-pejabat Turki itu. Masih perlu waktu untuk diproses, lapor Süddeutsche Zeitung.
Koran itu juga melaporkan bahwa pemerintah Turki belum mengajukan protes atas keberadaan para diplomat itu, yang memiliki hak imunitas dari deportasi, yang masih berada di Jerman. Sebagaimana dikabarkan banyak media, Ankara telah meminta sejumlah orang (pejabat) di luar negeri yang ditudingnya terlibat dengan Gulen agar dideportasi.
Pemerintah Ankara pernah menarik duta besarnya setelah parlemen Jerman pada 2 Juni 2016 mengkategorikan pembunuhan jutaan orang di Armenia sebagai genosida oleh pasukan Kekhalifahan Utsmani yang berpusat di Istanbul pada era Perang Dunia I. Namun, beberapa jam sebelum kabar permintaan suaka para diplomat itu mencuat ke publik pada hari Jumat kemarin, Dubes Huseyin Avni Karsioglu telah kembali melanjutkan tugasnya di Berlin.
Media Jerman menduga kemungkinan pemerintah Ankara akan menuding pemerintah Berlin menampung para kriminal yang diburunya.
Pada akhir Oktober 2012, Recep Tayyip Erdogan yang kala itu masih menjabat perdana menteri meresmikan gedung Kedutaan Besar Turki di ibukota Jerman, Berlin. Gedung kedutaan yang baru itu merupakan kompleks diplomatik Turki yang terbesar di dunia.*