Hidayatullah.com—Perserikatan Bangsa-Bangsa menyelidiki sejumlah pemantaunya lagi terkait keikutsertaan mereka dalam pesta malam Tahun Baru bersama kelompok pemberontak FARC.
Hari Ahad (8/1/2017) PBB mengatakan bahwa perilaku petugas pemantaunya itu “tidak pantas” dan “tidak mencerminkan nilai-nilai profesionalisme dan imparsialitas misi yang diembannya.”
Kabar itu menyusul hanya dua hari setelah 4 anggota tim misi pemantau PBB untuk proses perdamaian di Kolombia dipecat karena berdansa-dansi dengan anggota FARC pada pesta malam pergantian tahun belum lama ini.
Tidak jelas berapa banyak orang yang terlibat dalam kasus itu, yang sebelumnya rekamannya tidak terlihat dan sekarang foto-fotonya bermunculan di media sosial, kata sebuah sumber di PBB seperti dilansir Aljazeera.
“Kasus ini sedang diselidiki. Dan misi PBB di Kolombia akan mengambil langkah apapun yang diperlukan. Kami berkomitmen penuh untuk bersikap imparsial,” kata seorang sumber yang tidak disebutkan namanya kepada AFP.
Para pemantau PBB dikerahkan untuk mengawasi proses perlucutan senjata FARC sebagai bagian dari kesepakatan damai yang ditandatangani kelompok kiri itu dengan pemerintah Kolombia guna mengakhiri konflik yang sudah berusia 50 tahun.
Namun, hari Kamis kemarin mencuat kontroversi ketika media Kolombia menayangkan video para pemantau PBB, dengan mengenakan rompi seragam berwarna biru muda, sedang berjoget ria mengikuti irama lagu bersama anggota FARC yang bersenjata di sebuah kamp di bagian utara Kolombia di mana para pemberontak itu berkumpul sebelum menyerahkan senjata mereka.
PBB mengatakan setelah menyelidiki kejadian itu, pihaknya memutuskan untuk “memisahkan” tiga pemantau dan seorang penyelianya dari misi mereka.
Setelah menandatangani kesepakatan damai dengan pemerintah pada bulan November 2016, sebanyak 5.700 personel FARC saat ini berkumpul di 26 zona di mana mereka menjalani proses demobilisasi dalam kurun 6 bulan.
PBB sejauh ini sudah mengirimkan 280 pemantau untuk mengawasi proses itu, sebagai bagian dari sebuah kontingen yang nantinya berkekuatan 450.
Dibentuk tahun 1964, Angkatan Bersenjata Revolusi Kolombia (FARC) merupakan kelompok pemberontak terbesar dalam konflik di Kolombia yang telah merenggut nyawa lebih dari 260.000 jiwa itu.*