Hidayatullah.com–Pada tanggal 7 Januari, Islamic Center di Lake Travel, Austin – Texas, yang sedang dalam tahap renovasi, mengalami kebakaran. Seminggu kemudian, pada 14 Januari sebuah Islamic Center di Eastside, Bellevue – Washington, juga terbakar.
Dua minggu setelahnya, pada 27 Januari, beberapa jam setelah penandatanganan perintah pelarangan imigran dari tujuh Negara mayoritas muslim oleh presiden AS terpilih, Donald Trump, kebakaran merusak sebuah Islamic Center di Victoria, Texas. Kemudia, Jumat lalu, yaitu tanggal 24 Februari, sebuah ledakan apiringan terjadi di depan Masjid Daarus Salam, Tampa – Florida.
Pihak berwenang telah menetapkan bahwa tiga dari empat kebakaran tersebut disebabkan oleh arson. Seorang petugas Travis County Fire Marshal menginformasikan kepada BuzzFeed News bahwa penyelidikan kebakaran Islamic Center di Lake Travel, masih terus berlangsung.
“Kami tidak pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya. Dimana empat buah masjid terbakar dalam 7 minggu secara berurutan,” ujar Mark Potok, petugas senior Southern Poverty Law Center, sebuah lembaga yang bergerak dalam pencarian kelompok-kelompok rasis. “Ini adalah bagian dari sebuah serial penyerangan dramatis terhadap kaum muslim.”
Baca: Lima Masjid Dibakar dan 30 Tewas dalam Konflik di Myanmar Terbaru
Kebakaran masjid meningkat sejalan dengan peningkatan kejahatan terhadap kelompok agama minoritas. Beberapa minggu yang lalu, sebuah ancaman bom menyerang pusat komunitas dan sekolah Yahudi.
Selain itu, di tiga negaran bagian AS, kuburan-kuburan pada pemakaman Yahudi dirusak. Pada hari minggu lalu waktu setempat, seseorang melemparkan batu melalu jendela masjid Abu Bakr di Denver.
Di Redmond, Washington,kegiatan vandalisme telah merusak pintu masuk masjid Muslim Association of Puget Sound dalam dua waktu berurutan selama dua bulan kegiatan pemilu presiden AS. Dua hari setelah pelantikan, seorang wanita memecahkan jendela Davis Islamic Center di California, dan meninggalkan beberap lembar daging babi mentah pada pegangan pintunya.
Pada bulan januari, seorang nasionalis kulit putih menembak enam orang jamaah di Masjid Kota Quebec, Kanada. Minggu lalu, seorang pria kulit putih menembak dua laki-laki India di sebuah bar di Kota Kansas setelah memaki, mempertanyakan status keimigrasian korbannya, dan berteriak “Pergi dari negara saya!”
“Jawaban pendeknya, kami tidak pernah melihat hal ini terjadi sebelumnya,” ujar Potok mengenai berbagai laporan kejahatan rasial dalam negeri tersebut.
“Ini adalah tahun ke 18 saya berada disini dan saya belum pernah menyaksikan kriminalitas beruntun seperti ini.”
“Kebakaran yang menghanguskan tiga masjid dalam enam minggu, akibat arson, merupakan suatu kejadian yang abnormal. Tidak biasanya,” ujar Corey Saylor, kepala departemen Monitor and Combat Islamophobia pada Council on American-Islamic Relations (CAIR). “Pada kondisi normal, dapat terjadi satu atau dua tipe kecelakaan di Masjid tiap bulan nya, dan jarang yang disebabkan oleh arson,” tambahnya. “Saya dengan yakin mengatakan kepada Anda bahwa saya tidak pernah melihat level kejahatan seperti ini sejak saya bertugas dari tahun 2009 di bidang ini.”
Kebakaran Islamic Center di Lake Travis –yang dalm dua bulan setelahnya masih dilakukan penyelidikannya- menghancurkan setengah konstruksi bangunan yang sedang di renovasi tersebut. Padahal, dibutuhkan waktu empat tahun untuk penggalangan dana pembangunan tersebut oleh anggota komunitas nya.
“Banyak yang membantu kami untuk membangun kembali bangunan ini dibandingkan yang menolaknya. Tapi, hanya butuh satu orang gila untuk merusaknya,” ujar Shakeel Rashed, seorang anggota eksekutif di jajaran pengurus Islamic Center of Lake Travis kepada Texas Tribune pada bulan Januari lalu.
“Kami semua akan meningkatkan kewaspadaan. Ketika rekonstruksi akan dimulai, kami berharap untuk merencanakan keamaan masjid yang lebih baik dengan pengadaan lebih banyak kamera CCTV,” ujar Rashed.
Di Bellevue, Washington, enam hari sebelum pelantikan presiden, CCTV menangkap seorang pria berjalan menuju Islamic Center Eastside sambil membawa ransel dan kendi galon sesaat sebelum pukul 02:45, lapor kantor berita Seattle Times. Kurang dari satu menit kemudian, masjid itu terbakar.
Peneliti di tempat kejadian menemukan galon meleleh dan kaleng gas. Petugas kepolisian menangkap Isaac Wayne Wilson, yang berada tempat kejadian, berbau bensin, dan mengaku melakukan peledakan, lapor pihak kepolisian tersebut.
Pihak berwenang mengatakan tidak ada bukti yang mengindikasakan hal tersebut sebagai kejahatan rasial. Setahun sebelumnya, Wilson, yang memiliki sejarah penyakit mental, telah dihukum karena penyerangan terhadap sebuah masjid.*/ Khawlah bint al-azwar (BERSAMBUNG)