Hidayatullah.com—Pemerintah Myanmar hari Selasa dilaporkan menutup tiga kamp sementaranya di negeri bergolak Rakhine sejak Selasa 11 April 2017.
Pemerintah tidak menyebutkan akan dipindahkan kemana semua pengungsi di tiga kamp tersebut namun langkah itu dilaksanakan setelah komisi yang dipimpin mantan Sekretaris Jenderal, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kofi Annan mendesak penutupannya sebagai langkah yang dirancang untuk mengakhiri ketegangan etnis yang terus memuncak.
Sebelum ini, puluhan ribu orang dari komunitas Muslim Rohingya dan Buddha tinggal di kamp pengungsian Rakhine akibat konflik sektarian yang terjadi sejak lima tahun lalu.
Penasihat Keamanan Nasional Thaung Tun mengatakan Myanmar telah memulai permohonan komisi dengan menutup tiga kamp, termasuk yang dihuni etnis Rakhine dan Muslim Kaman.
Baca: PBB Tepis Laporan Temuan Komisi Penyelidikan versi Myanmar Soal Rohingya
Kamp terbesar dari ketiganya meliputi lebih dari 200 rumah yang dihuni Muslim Rohingya, yang disebut PBB sebagai etnis minoritas paling menderita di dunia.
“Kami telah memulai proses menutup tiga kamp IDP (internally displaced persons),” kata Thaung Tun dalam sebuah konferensi pers, seperti dikutip AFP.
“Di Kyauk Phyu, ada kamp-kamp IDP yang dihuni warga asli Rakhine, di Sittwe ada Rohingya dan di Ramree sebagian besar (Muslim) Kaman,” lanjut dia.
Myanmar telah mendapat gelombang kritik dari komunitas internasional atas perlakuan terhadap Rohingya. Sebagian warga Myanmar, terutama dari komunitas Buddha, menganggap Rohingya sebagai imigran gelap dari Bangladesh.
Sebagian besar Rohingya tidak mendapat status kewarganegaraan Myanmar dan juga dibatasi ruang geraknya dalam bidang pendidikan, kesehatan, makanan dan pergerakan.
Ketegangan di Rakhine mencapai puncaknya dalam beberapa bulan terakhir setelah militer melancarkan operasi perburuan militan. Operasi dilancarkan atas serangan militan ke pos polisi pada Oktober tahun lalu.
Tim investigator PBB menyebut pasukan keamanan Myanmar mungkin telah melakukan kejahatan kemanusiaan dan pembantaian etnis di Rohingya selama operasi tersebut. *