Hidayatullah.com—Seorang pria Irlandia, anggota kelompok separatis teroris IRA, mengaku terlibat dalam serangan mortir dengan target tentara Inggris yang ditempatkan di barak-barak di kota Osnabruck, Jerman, pada tahun 1996.
Perlu 20 tahun untuk melacak orang itu, tetapi persidangan akhirnya dimulai pada hari Rabu (26/7/2017), dan terdakwa mengakui perbutannya pada hari yang sama.
Pria Irlandia yang sekarang berusia 48 tahun itu, bekas anggota paramiliter Irish Republican Army (IRA), mengaku terlibat dalam serangan atas Quebec Barracks di mana personel militer Inggris ditempatkan di kota Osnabruck, Jerman, pada 28 Juni 1996.
Terdakwa dijerat dengan tuduhan percobaan pembunuhan, dan harus menjalani sekitar 15 persidangan sebelum bulan Desember, lapor Deutsche Welle.
Dua puluh tahun silam, pria itu dan empat temannya anggota kelompok pecahan IRA, diduga memarkir sebuah truk pickup di luar Barak Quebec dan meluncurkan tiga serangan mortir. Dua mortir gagal meledak, dan satu justru jatuh di jalan menuju sebuah stasiun pengisian bahan bakar yang terletak tidak jauh. Tidak satu pun dari 150 tentara Inggris yang berada di barak itu terluka, yang disebut hakim sebagai “keberuntungan,” tetapi sejumlah bangunan dan kendaraan di sekitar lokasi kejadian mengalami rusak cukup parah.
Dalam pernyataan yang dibacakan pengacaranya, pria Irlandia itu mengaku membantu memasang peluncur mortir dan memuatnya ke atas truk.
Namun, dia berupaya menjauhkan diri dari kekerasan dan aksi teror yang dilakukan kelompok IRA, dengan mengatakan dia sudah tidak lagi menjadi anggota organisasi yang dicap Inggris sebagai teroris itu.
Pria Irlandia itu menolak mengungkap nama orang-orang lain yang terlibat dalam aksi tersebut.
Kantor berita Jerman DPA melaporkan sejauh ini setidaknya 6 orang tewas dalam serangan-serangan di Jerman yang berkaitan dengan kelompok IRA.*