Hidayatullah.com–Setidaknya tiga uskup Katolik dari Filipina selatan menyatakan tidak setuju atas rencana Amerika Serikat (AS) melakukan serangan udara terhadap sasaran kepada dugaan kelompok militan di Mindanao.
Hal itu disampaikan sebagai reaksi terhadap sebuah laporan NBC News minggu ini, yang mengatakan bahwa Pentagon sedang mempertimbangkan sebuah rencana yang memungkinkan militer AS melakukan serangan udara terhadap kelompok teroris yang berafiliasi dengan DAESH (IS) di Filipina.
Pejabat militer dan pertahanan Filipina mengatakan bahwa tidak dibutuhkan serangan udara AS terhadap kelompok militan lokal yang dikaitkan dengan DAESH (IS) di Kota Marawi yang sedang terkepung.
Baca: Kartu Identifikasi Khusus untuk Muslim, Cetuskan Kemaran di Marawi
Panglima militer Jenderal Eduardo Ano juga membantah bahwa ada opsi semacam itu yang dipertimbangkan, ia mengatakan bahwa perjanjian militer dengan AS dan tindakan militer langsung hanya diperbolehkan selama ada invasi ke Filipina.
“Perang yang bisa diselesaikan dengan mudah oleh negara kita jika saja kita menggunakan tradisi Filipina untuk menyelesaikan konflik,” ujar Uskup Edwin De La Pena dari Marawi mengomentari konflik di Mindanao.
Ia mengatakan sebaiknya pemerintah menggunaan cara tradisional untuk menyelesaiakan persoalan di kota itu yang sudah memasuki bulan ketiga itu.
“Seperti yang kita lihat, semua inisiatif lokal lainnya telah ditolak,” kata Uskup De La Pena dikutip laman ucanews.com.
Uskup Agung Martin Jumoad dari Keuskupan Agung Ozamiz mengatakan bahwa tidak perlu campur tangan Amerika Serikat karena konflik di Marawi adalah “masalah dalam negeri”.
Sementara Uskup Dinualdo Gutierrez dari Keuskupan Marbel mengungkapkan keyakinannya bahwa pasukan keamanan negara itu mampu menghadapi situasi itu.
Dia mengatakan bahwa intervensi militer AS di Marawi hanya akan menghasilkan “lebih banyak kekerasan.”
Sebagaimana diketahui, pemerintah AS melatih dan memperlengkapi pasukan Filipina sebagai bagian dari kesepakatan pertahanan bersama antara kedua negara.
Dalam operasi militer yang sedang berlangsung di Marawi, Amerika telah mengerahkan pesawat pengintai Orion P3
Hampir 400.000 orang telah mengungsi akibat pertempuran tersebut, yang dimulai pada tanggal 23 Mei ketika orang-orang bersenjata yang terinspirasi oleh DAESH menyerang Kota Marawi.
Konflik tersebut telah mengakibatkan kematian sedikitnya 122 tentara, 45 warga sipil, dan 539 tersangka.*