Hidayatullah.com–”Eh, lucu sekali!” ujar para turis. “Tembak mereka!” teriak aparat di Zermatt, di mana marmut kini menjadi hama. Hewan pengerat berbulu lebat itu menimbulkan kerusakan di ladang dan rumah penduduk.
Pelancong di kawasan Matterhorn menyukai teriakan marmut yang melengking tinggi. Di Zermatt bahkan ada wisata jalan kaki menelusuri habitat marmut untuk melihat binatang itu secara langsung dari dekat. Tidak hanya itu, kios-kios di tempat wisata menjual kartu pos bergambar makhluk kecil bertubuh tambun itu.
Di alam bebas, marmut memang lucu dan menggemaskan. Namun, jika berada di sekitar tempat hidup manusia, konfrontasi bisa terjadi.
Belakangan ini, semakin banyak marmut membuat sarang bawah tanah di desa Zermatt, sehingga merusak ladang pertanian.
Tidak hanya itu. “Jika seseorang meninggalkan pintu balkon dalam keadaan terbuka, marmut bisa menyusup masuk. Mereka lantas menggali lubang di dekat tembok,” kata Romy Biner-Hauser, kepala daerah setempat, kepada Swiss Public Radio seperti dilansir Swissinfo Kamis (14/9/2017).
Penyebab perilaku aneh marmut itu sepertinya akibat populasi berlebih, karena mereka tidak banyak diburu, kata Peter Scheibler, kepala Departemen Perburuan, Pemancingan dan Kehidupan Liar di wilayah Valais. Tidak hanya itu, marmut “merasa terlindungi jika berada di daerah di mana manusia tinggal, sebab predator tidak akan memburu mereka di sana,” kata Scheibler.
Pengembala dan petani organik Paul Julen mengaku tidak lagi dapat mengolah salah satu bidang lahannya, karena lubang sarang marmut sangat banyak. Dia nyaris kehilangan dua anak kambing baru lahir, karena terjerembab dalam lubang marmut.
Sekarang wilayah Valais memberlakukan aturan perburuan atas marmut untuk mengendalikan populasinya, seperti yang berlaku pada hewan rusa dan serigala.
“Sejauh ini, pemburu di Zermatt telah menembak beberapa puluh marmut,” kata Scheibler.
Meskipun mendapat protes dari para pelancong yang berwisata ke Zermatt, pihak berwenang setempat merasa pengendalian populasi marmut dengan cara perburuan terkontrol harus dilakukan agar tidak merugikan para petani, tanpa harus mengganggu sektor pariwisata.*