Hidayatullah.com–Presiden Filipina Rodrigo Duterte berusaha memperbaiki hubungannya dengan gereja Katolik akibat ketegangan kedua bela pihak selama ini.
Minggu lalu Presiden Duterte mengatakan bahwa dia ingin mengembangkan hubungan baik dengan para pemimpin gereja “selama kita mendengarkan satu sama lain.”
“Semua baik saat anda mendengarkan orang lain,” kata Duterte saat menghadiri pemakaman Kardinal Ricardo Vidal dari Cebu pada 23 Oktober dikutip Ucanews.
Kardinal Vidal, yang bangkit melawan kediktatoran Ferdinand Marcos selama “revolusi kekuatan rakyat” pada tahun 1986, meninggal pada 18 Oktober.
Ketika Duterte memenangkan pemilihan presiden tahun lalu, mendiang kardinal menggambarkan dia sebagai “orang baik” dan “mudah untuk berbicara dengan siapa saja.”
Baca: Presiden Rodrigo Duterte: “Saya Percaya Satu Tuhan Allah, Titik!
Ketika uskup dan imam lainnya mengkritik presiden karena perang yang dia mulai melawan obat-obatan terlarang yang mengakibatkan terbunuhnya ribuan pengguna dan pedagang arkoba, Kardinal Vidal meminta umatnya untuk tetap berdoa bagi presiden, suka atau tidak.
Pada bulan Februari, mantan Uskup Agung Cebu tersebut mengatakan, “harus ada pemahaman antara pemerintah dan gereja.”
Dalam sebuah pernyataan pada 23 Oktober, Duterte mengatakan, “[ada] hubungan baik antara saya dan gereja dan masyarakat.”
“Kita semua perlu untuk berbicara,” katanya, menambahkan bahwa ia menghadiri pemakaman Kardinal Vidal “karena, pertama dan terutama, ini adalah kewajiban saya sebagai anggota Gereja Katolik.”
Sebelum terpilih menjadi presiden, Duterte telah mengobarkan perang melawan para pemimpin gereja. Ia pernah menyebut para uskup sebagai anak pelacur dan menuduh Gereja Katolik sebagai sarang kemunafikan.
Beberapa saat sebelum dilantik jadi presiden terpilih, Duterte pernah mengatakan meski dirinya seorang penganut Kristen, dia juga seorang realis yang hirau akan masalah populasi. Untuk itu, dia ingin menerapkan kebijakan yang membatasi setiap keluarga untuk memiliki tiga anak saja.
“Saya hanya mau tiga orang anak di setiap keluarga,” kata Duterte sebagaimana dilansir Reuters, Senin (23/5/2016).
Baca: Presiden Duterte Gelari Kampus Oxford sebagai Orang Bodoh
“Saya seorang penganut Kristen, tapi saya juga seorang realis jadi kita harus melakukan sesuatu terhadap kelebihan populasi yang kita alami. Saya akan menentang opini atau kepercayaan dari Gereja,” tegasnya.
Sebagaimana diketahui, Katolik yang dianut 80 persen penduduk Filipina, penggunaan kontrasepsi untuk membatasi angka kelahiran terlebih praktik aborsi adalah sesuatu yang dilarang. Sehingga penerapan pembatasan jumlah anak dapat dianggap bertentangan dengan ajaran tersebut.
Tak sedikit pernyataan Mantan Wali Kota Davao yang memberikan pernyataan kontroversial yang dianggap menyinggung perasaan umat Katolik Filipina.
Ia juga pernah mengatakan dirinya tak perlu menganut suatu agama untuk menunjukkan iman kekristenannya. “Saya punya iman yang mendalam kepada Tuhan tetapi bukan berarti Anda harus memiliki agama, Anda harus ikut-ikutan, dimana Anda harus mendapat pesan dari ini dan itu,” katanya.
Ia menambahkan dirinya tak perlu mengungkapkan dosa-dosanya kepada manusia dan meminta pengampunan. Karena manusia bukan Tuhan yang sanggup mengampuni dosa. “Siapa Anda yang bersedia mendengarkan dosa-dosa saya dan memberi saya pengampunan dosa. Anda bukan Tuhan,” lanjutnya.
Akibat panasnya hubungan dengan uskup Katolik negara tersebut dan kelompok agama lainnya mengeluarkan pernyataan yang mengecam perang pemerintah melawan obat-obatan terlarang.*