Hidayatullah.com—Kepala negara Republik Chechnya Ramzan Kadyrov mengatakan kepada Rossiya 1 TV bahwa meskipun dirinya masih memiliki energi untuk melaksanakan tugas, sudah saatnya dia pensiun sebab kawasan itu telah memasuki tahap baru dalam perkembangannya.
Dalam wawancara dengan lembaga penyiaran milik pemerintah Rusia itu, Kadyrov mengaku memimpikan pensiun sebab pekerjaannya sebagai kepala negara Republik Chechnya sangat sulit dan menanggung beban tanggung jawab sangat besar.
“Saya pikir waktunya sudah tiba. Sebelumnya, ada kebutuhan akan orang-orang seperti saya –untuk bertempur dalam peperangan, untuk menciptakan ketertiban. Namun, sekarang kita sudah tertata, kita sudah mendapatkan respek, dan ada pengertian di dalam masyarakat dan dengan Rusia. Ini, utamanya, dimanifestasikan oleh fakta bahwa kita diakui sebagai warganegara Rusia,” kata Kadyrov.
Bicara soal calon penggantinya, Kadyrov mengatakan ada beberapa orang, tetapi dia enggan menyebutkan namanya. Dia menegaskan bahwa keputusan harus dibuat oleh pejabat di tingkat yang lebih tinggi, dan dia juga menunjukkan kesediaannya untuk mematuhi perintah apa saja yang datang dari Moskow.
Lebih lanjut Kadyrov mengatakan bahwa dia “senang” karena sanksi yang dijatuhi oleh negara-negara asing disebabkan karena baktinya kepada negara Chechnya dan Rusia.”Kalaupun ada sanksi terhadap saya, itu bukan karena masalah pencurian atau korupsi atau membocorkan rahasia. Saya dijatuhi sanksi karena negara saya dan rakyat saya, dan mereka (pemberi sanksi, red) tidak melukai saya sama sekali,” kata Kadyrov kepada Rossiya 1 seperti dilansir RT Senin (27/11/2017).
Kadyrov menegaskan bahwa dia tidak melakukan kunjungan ke Amerika Serikat atau ke Eropa Barat sebelum sanksi yang diberikan negara-negara Barat berlaku efektif, dan dia tidak punya rencana untuk pergi ke sana bila sanksi dicabut.
Ramzan Kadyrov pertama kali menduduki jabatan kepala negara Republik Chechnya pada 2 Maret 2007. Dia kembali ditunjuk untuk menduduki jabatan itu empat tahun kemudian, dan terpilih kembali pada September 2016 dengan suara mayoritas mutlak. Sebelum dan sesudah pemilihan dia selalu mengatakan bersedia meletakkan jabatan jika diminta oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. Akan tetapi, di akhir setiap pernyataannya itu, dia juga berjanji akan terus memimpin republik itu jika tidak diminta mundur.
Jajak pendapat yang dilakukan lembaga riset sosiologi Levada pada April 2016 menunjukkan bahwa 69 persen orang Rusia mendukung pencalonan Kadyrov sebagai kepala negara Chechnya, sementara 13 persen menolak dan 18 memilih abstain.*