Hidayatullah.com–Total jumlah migran tanpa dokumen di Libya telah mencapai angka setengah juta, kata Fayez Al-Sarraj, pemimpin pemerintah persatuan Libya yang didukung PBB.
Al-Sarraj menyampaikan pernyataannya itu pada hari Rabu malam pada KTT African Union-European Union (Uni Afrika-Uni Eropa/AU-EU) kelima yang berlangsung di kota Pantai Gading, Abidjan.
Sebagian besar migran tanpa dokumen itu – sekitar 95 persen – datang dari negara-negara Afrika, katanya.
Menurut Al-Sarraj, sekitar 20.000 migran tanpa dokumen – kurang lebih 4 persen dari total – saat ini berada di tempat penampungan yang dikelola pemerintah di seluruh Libya.
Baca: AU Libya: Lebih dari 100 Migran Hilang Akibat Kapal Karam
Sisanya, katanya, telah diserap oleh pasar tenaga kerja lokal
Dalam beberapa tahun terakhir, Libya telah menjadi pusat transit bagi migran Afrika tanpa dokumen yang “mencari padang rumput yang lebih hijau” di Eropa.
Banyak di antara mereka yang akhirnya direkrut oleh milisi bersenjata atau dimanfaatkan oleh kelompok teroris lokal.
Libya tetap berada dalam kekerasan dan kekacauan sejak 2011, ketika pemberontakan berdarah yang menyebabkan pemecatan dan kematian Presiden Muammar Qadhafi setelah lebih dari empat dekade berkuasa.
Kekosongan kekuasaan berikutnya menyebabkan munculnya beberapa kasus perebutan kursi pemerintahan dan sejumlah kelompok milisi bersenjata-berat.
Perbudakan
Awal bulan ini, jaringan televisi AS CNN melaporkan bahwa banyak migran Afrika di Libya telah ditangkap oleh kelompok kriminal lokal dan dijual ke pasar perbudakan di daerah-daerah tanpa hukum dekat Tripoli.
Baca: Milisi Libya Temukan Ribuan Migran Terdampar di Kota Sabhrata
Pada hari Rabu, Raja Maroko Mohammad VI mengutuk praktek-praktek ini, yang ia gambarkan sebagai “bertentangan dengan hak asasi manusia dan nilai-nilai kemanusiaan”.
Ia menyampaikan pernyataannya itu dalam pernyataan tertulis yang dibacakan di KTT AU-EU.
“Praktek-praktek yang dilakukan milisi bersenjata ini di luar kendali pemerintah Libya, hal itu bertentangan dengan hak asasi manusia dan nilai-nilai dan tradisi rakyat Libya,” tegasnya.*/Abd Mustofa