Hidayatullah.com—Setelah berhasil melarang beberapa pendakwah internasional memasuki Singapura, kini, pemerintah setempat juga melarang Yusuf Estes memasuki negeri itu.
Pihak Kementerian Dalam Negeri Singapuran (MAH) mengkonfirmasi hari Jumat (1 Desember 2017) bahwa telah melarang pendakwah asal Amerika Serikat (AS) Yusuf Estes memasuki negeri tersebut, demikian kutip Channel Newsasia.
Menurut laporan Channel NewsAsia, Yusuf ditolak memasuki negeri itu pada 24 November 2017 saat berada di Bandara Changi.
MHA mengklaim bahwa larangan itu dilakukan menyusul pandangan Yusuf yang bertentangan dengan nilai-nilai komunitas multiras dan religius di negara ini.
Menurut kementerian tersebut, penolakan tersebut dilakukan untuk melindungi kerukunan agama dan sosial di Singapura.
“Mereka tidak dapat diterima dalam konteks masyarakat multiras dan religius di Singapura,” kata kementerian tersebut.
Kementerian Dalam Negeri Singapura menyebutkan contoh-contoh pandangan Yusuf Estes yang dirilis dalam video bulan Maret 2012 di mana Estes mengatakan bahwa bukan “bukan bagian dari Islam untuk merayakan hari raya orang lain” dan bahwa ia bukan bagian dalam iman Islam untuk merayakan agama orang Kristen dan Yahudi “Selamat Natal” dan “Selamat Hanukkah”.
Kementerian itu juga menegaskan bahwa artikel yang diterbitkan di laman pribadi Estes pada tahun 2016 yang mempersoalkan asas agama Kristen juga sebagai alasan pelarangan.
Singapura beberapa tahun belakangan ini dikenal sangat paranoid terhadap hal berbau Islam.
Singapura, dulunya Negeri Melayu yang kini populasinya telah didominasi etnis China. Berdasarkan catatan, penduduk asli pada Singapura kini hanya 13.4%. Sementara etnis China (yang semula adalah pendatang) kini menjadi mayoritas lebih kurang 74.1% penduduk.
Negeri ini memiliki peraturan ketat yang bisa menjerat para pemimpin agama atau dai. Di bawah undang-undang, para pemimpin agama harus mendaftar sebelum mereka dapat mengajar dan wajib memberi tahu pemerintah setempat jika akan bekerja.
Singapura juga pernah menjatuhkan denda Rp 38,1 juta seorang penghutbah akibat materi khotbah Jumat dianggap ‘menyerang umat Kristen dan Yahudi’.
Sebelum ini, seorang pengkhotbah Islam –Syeikh Ismail Musa Menk atau Mufti Menk dan Haslin Baharim– dilarang memasuki Singapura
Mufti Menk, dinilai menyebarkan ajaran yang ‘memecah-belahkan’ masyarakat negeri itu, seperti pernah mengatakan Muslim dilarang mengucapkan “Selamat Hari Natal” dan “Selamat Deepavali”.
Haslin dari Perak (Malaysia), dilaporkan pernah menggambarkan non-Muslim sebagai “kafir” dan itu dinilai Singapura yang banyak etnis China ‘mempromosikan ketidakharmonisan antara non-Muslim dan Muslim’.
Kondisi ini berbeda dengan Indonesia, guna menjaga akidah umat Islam, MUI justru sudah pernah mengeluarkan fatwa larangan ucapan Selaman Natal bagi kaum Muslim di tahun 1981.*
Pendakwah Dunia
Lahir di Ohio, Yusuf besar dan bersekolah di Texas. Pria berdarah Amerika, Irlandia, dan Jerman dulunya penganut Kristen. Ia mempelajari semua agama, bahkan ajaran Hindu, Buddha, Yahudi, hingga Metafisika. Di usianya yang ke-86 ia memeluk Islam.
Sejak memeluk Islam, ia ‘wakaf’kan hidupnya untuk agama Islam. Ia mendalami bahasa Arab, belajar ilmu Al-Quran di Mesir, Maroko hingga Turki. Sejak 2006, Yusuf Estes secara reguler tampil di acara PeaceTV, Huda TV, dan sebuah Channel Islam bermarkas di Inggris. Ia juga muncul dalam serial TV untuk anak-anak bertajuk “Qisasul Anbiya” yang bercerita tentang kisah-kisah para Nabi.
Yusuf terlibat aktif di berbagai aktifitas dakwah. Menjadi imam tetap di markas militer AS di Texas, dai di penjara AS sejak tahun 1994. Bahkan pernah menjadi delegasi PBB untuk perdamaian dunia.*