Hidayatullah.com—Uber adalah organisasi teroris dan pengguna aplikasinya adalah pengkhianat bangsa, kata Ketua Perserikatan Sopir Taksi Istanbul Irfan Ozturk, Kamis (12/4/2018), di tengah-tengah ketegangan berkepanjangan antara pengemudi Uber dengan sopit taksi reguler di kota terbesar di Turki Istanbul.
“Uber didirikan di San Fransisko. Itu adalah tempat di mana para pengkhianat yang menembak dan membunuh prajurit-prajuritku di Afrin berkembang biak. Baik pengguna Uber maupun pengemudi kendaraan Uber keduanya adalah pengkhianat,” kata Ozturk, merujuk pasukan Kurdi Suriah yang dicap teroris oleh pemerintah Ankara yang bertempur melawan invasi militer Turki, seperti dikutip Hurriyet.
“Uber setara dengan PKK (Partai Pekerja Kurdistan), Uber sama dengan Daesh. Resminya itu adalah kelompok teroris … maling kelas dunia,” imbuhnya.
Ketegangan antara pengemudi taksi reguler dan Uber belakangan ini semakin memanas belakangan ini di Istanbul, diwarnai dengan demonstrasi bahkan tindak kekerasan.
Pada 10 Maret lalu, sebuah kendaraan Uber ditembaki di distrik Kucukcekmece, Istanbul, setelah Uber merilis pernyataan perihal kenaikan jumlah tindak kekerasan yang menarget kendaraan Uber di Turki.
Tidak seperti di negara lainnya, Uber di Turki menarik tarif lebih tinggi kepada konsumen. Oleh karena itu, persaingan antara Uber dan taksi reguler bukan dalam hal harga, melainkan kualitas layanan. Banyak penumpang lokal yang mengeluhkan pelayanan buruk dari taksi reguler.
Pagi tanggal 12 Maret, sekelompok pengemudi taksi konvensional berkumpul di luar gedung pengadilan Caglayan di Istanbul saat sidang kedua gugatan hukum yang dilayangkan Asosiasi Perserikatan Sopir Taksi (ITEO).
Sambil membawa spanduk bertuliskan “Uber = Pencuri global” dan “Kami menolak pencuri kelas dunia Uber,” para demonstran berdalih Uber sudah diusir dari banyak negara Eropa.
“Kami menuntut kendaraan-kendaraan Uber diberhentikan layananannya. Mereka ini pencuri-pencuri buruh,” kata Ketua ITEO Eyup Aksu ketika itu.*