Hidayatullah.com– Banyak negara Islam sibuk mempersiapkan kedatangan Ramadhan, termasuk di Kabul, Afghanistan. Toko-toko telah mulai menyiapkan makanan dan makanan berbau manis yang biasanya dimakan saat berbuka puasa dan makan pagi (sahur).
Tetapi untuk beberapa orang, menyiapkan makanan pokok adalah prioritas. Sekali lagi, lebih dari 50% orang Afghanistan hidup di bawah tingkat kemiskinan sebagai korban perang.
Hari Jumat (11/05/2018), puluhan warga dari berbagai negara bagian melakukan aksi unjuk rasa damai menyerukan gencatan senjata jangka pendek antara pihak pemerintah dukungan AS dan Taliban dan segera melanjutkan pembicaraan damai.
Para penyelenggara aksi bertema ‘Komunitas Gencatan Senjata dan Perdamaian Nasional’ mengatakan orang-orang lelah berperang dan mereka menginginkan perdamaian abadi di negerinya.
“Kami meminta pemerintah dan Taliban untuk menyetujui gencatan senjata dari Ramadhan dan memulai negosiasi damai selama waktu ini,” kata Najibullah, penyelenggara aksi dikutip media lokal.
“Situasinya buruk. Orang-orang tidak mendapatkan pendidikan karena ketidakamanan. Kita harus mengakhiri kekerasan,” kutip Abdul Hameed, anggota aksi.
Para peserta aksi lainnya mengatakan, kemiskinan dan buta huruf adalah dua alasan utama di balik berlanjutnya perang dan kekerasan di Afghanistan.
“Kami tidak menginginkan apapun, tetapi ingin mengakhiri perang,” ujar Nasim Ahmadzai, seorang pengunjuk rasa mengatakan.
“Kami ingin semua pihak yang bertikai mengakhiri kekerasan dan mendapatkan tuntutan mereka secara damai dan melalui pembicaraan,” kata Mohammad Tariq Elham, seorang aktivis masyarakat sipil.
Baca: Prajurit Jerman Diminta Bersabar, Tugas di Afghanistan Belum Berakhir
Selama beberapa tahun terakhir, kelompok Taliban -yang menjadi korban invasi AS dan sekutunya- meningkatkan serangan terhadap pemerintah selama bulan Ramadhan, menyebabkan banyak orang gugur dan ratusan lainnya terluka.
Dengan kedatangan Ramadhan tahun ini, seorang ulama Afghanistan, meminta semua pihak untuk menghormati bulan suci ini dan berhenti membunuh orang yang tidak bersalah.*