Wartawan Malaysia menduga banyak stasiun TV asing yang menyembunyikan kebenaran dan fakta liputan di Iraq. Dugaan itu adalah banyaknya fakta yang sesungguhnya sedang terjadi namun tidak banyak diberitakan di negeri 1001 malam itu. Dugaan ini disampaikan oleh wartawan Berita Harian (BH), Malaysia yang berkesempatan ke sana dengan beberapa rombongan. Minggu (5/4), lalu, BH yang mendapatkan kesempatan menyaksikan langsung rekaman video mengenai keadaan dan suasana pilu di sebuah rumah sakit di Baghdad. Rekaman yang diperlihatkan pada beberapa kalangan wartawan itu menunjukkan beberapa gambar dan seorang anak lelaki berusia 10 tahun dalam keadaan menjerit kesakitan karena luka di kepala dan hampir sekujur badan. Rekaman ini diperoleh dari seorang petugas medis dari Mercy, Malaysia. Dr. Jamilah Mahmud. Rekaman lengkap berupa suara-suara jeritan kesakitan anak-anak seperti itu memang jarang diperoleh apalagi dari stasiun TV asing yang selama ini dikenal sangat pro Amerika Serikat (AS). Jamilah, yang juga langsung turun di lapangan dan berdasarkan sumber terpercayanya, di Bagdad, diperkirakan 100 wearga Iraq mati dalam sehari. Sasaran kekejaman AS dan sekutunya itu adalah wanita dan anak-anak yang kini ditempatkan di beberapa rumah sakit sekitar Baghdad. Sebuah rumah sakit, paling tidak, menerima tidak kurang 120 orang cidera setiap satu jam akibat bom. 70 persennya adalah anak-anak. Mereka luka akibat serpihan bom, roket, tembakan senjata dan runtuhan bangunan. Sayang Jamilah tidak menunjukkan nama rumah sakit bergaitan dengan gambar vidio yang dia peroleh karena alasan keamanan. Minggu lalu, 30 orang wartawan asal Malaysia diberangkatkan oleh pemerintah setempat untuk meliput langsung peristiwa yang terjadi di Iraq. Pengiriman ini berkaitan dengan berbagai fakta dari beberapa agen media asing yang selalu menyembunyikan kejadian sesungguhnya dan sangat pro AS. Kabarnya, Malaysia sedang menyiapkan stasiun TV yang dirancang menjadi pendamping Al-Jazeerah untuk menyaingi CNN dan Reuter. (bh/cha)