Hidayatullah.com– Israel dan UEA telah terlibat dalam perundingan normalisasi rahasia sejak 1990-an, menurut sebuah laporan jurnalistik yang dipublikasikan oleh New Yorker.
Dirilis kemarin, laporan itu memberikan wawasan rinci di balik pertemuan-pertemuan berdekade dan inisiatif antara kedua negara bertujuan untuk normalisasi hubungan.
Di dalamnya diungkap bahwa “hubungan rahasia antara Israel dan UEA dapat ditelurusi kembali ke serangkaian pertemuan di kantor yang tidak mencolok di Washington D.C setelah penandatanganan Perjanjian Oslo.”
Pertamuan khusus ini membahas kemungkinan UEA membeli jet tempur F-16 dari AS. Baik UEA dan AS khawatir bahwa langkah semacam itu dapat memancing protes dari Israel, namun seorang diplomati di Kedutaan Besar Israel di Washington, Jeremy Issacharoff, menjelaskan “orang Israel menginginkan kesempatan untuk membahas masalah ini secara langsung dengan orang Uni Emirat.”
Pada tahun 1994, seorang perusahaan konsultan AS memberikan bantuan kepada Jamal S. Al-Suwaidi, seorang akademisi Emirat yang mendirikan lembaga riset dukungan pemerintah bernama Emirates Centre for Strategic Studies and Research.
Ini “menjadi penyambung kontak dengan Israel,” dengan memfasilitasi pertemuan-pertemuan antara Al-Suwaidi dan Issacharoff di kantor pribadi di Washington.
Seorang mantan pejabat mengatakan pada New Yorker “ini semua bisa dilakukan tanpa catatan, secara tidak resmi” jadi baik orang Israel dan Emirat dapat mengatakan “pertemuan tersebut tidak pernah terjadi”.
Pada tahun-tahun berikutnya, saluran-saluran belakang semacam itu terus dipelihara oleh Israel dan UEA. Putra Mahkota Abu Dhabi, Mohammed Bin Zayed, menyelesaikan kesepakatan F-16, meskipun mengetahui bahwa pesawat itu mengandung teknologi Israel.
Bin Zayed memberi Al-Suwaidi restunya untuk membawa delegasi berpengaruh Yahudi Amerika ke Abu Dhabi untuk bertemu dengan para pejabat Emirat. Hubungan berbagi-intelejen lahir dari kontak-kontak awal ini.
Sementara kontak awal ini terjadi dengan sepengetahuan penuh pemerintahan AS, hubungan Israel-UEA mencapai puncaknya sekitar tahun 2016.
Majalah New Yorker menjelaskan bahwa: “Menjelang akhir masa jabatan kedua Obama, badan intelejen AS mempelajari panggilan-panggilan telepon antara pejabat senior UEA dan Israel, termasuk panggilan antara seorang pemimpin Emirat dan [Perdana Menteri Israel] Netanyahu. Kemudian badan intelejen AS mengambil pertemuan rahasia antara pemimpin senior UEA dan Israel di Cyprus. Pihak AS menduga Netanyahu menghadiri pertemuan tersebut, yang berpusat pada upaya melawan kesepakatan Iran Obama. Israel dan Emirat tidak memberitahu Pemerintahan Obama mengenai diskusi mereka.”
Sebagian dari kerja sama Israel-UEA ini diyakini telah didorong oleh pendekatan “musuh dari musuhku adalah temanku” terhadap meningkatnya pengaruh Iran di Timur Tengah.
Kedua pihak telah melakukan upaya luas untuk mempengaruhi kebijakan AS terhadap Iran, terutama dalam kaitannya dengan penghapusan kesepakatan nuklir Iran yang pada akhirnya membuahkan hasil pada Mei.
Namun laporan itu menekankan bahwa, bagi Israel, keuntungan dari normalisasi publik antara negaranya dan pemain kunci Teluk bisa menjadi sangat besar dan memainkan peran penting dalam negosiasi masa depan dengan Palestina.
Menurut Adam Entous, penulis laporan New Yorker itu: “Para pemimpin Teluk mewakili harapan terbaik Israel dari generasi ke generasi untuk mendapat penerimaan di wilayah.”
Israel berharap dukungan negara Teluk untuk perkara Palestina akan berkurang di hadapan keuntungan strategi kerja sama regional dan ekonomi yang dibawa Israel.
Ketika Presiden Trump mengumumkan pada Desember bahwa dia akan mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan Kedubes AS, “reaksi publik dari negara-negara Arab tampak lembut.”
Ketika secara resmi Kedubes itu dibuka pada Mei dan sekitar 120 demonstran Palestina terbunuh dalam Great March of Return, Israel menganggap “ritual pengecaman dan dukungan untuk rakyat Palestina” yang dikeluarkan Negara-Negara Teluk sebagai “sudah pasti hambar” dan bukti bahwa “perhatian mereka telah bergeser menjauh dari rakyat Palestina.”
Laporan itu menyimpulkan bahwa “Netanyahu berharap para pemimpin [Teluk] akan mengambil langkah untuk mengakui Israel – sebuah momen yang rakyat Palestina […] akan enggan melihatnya.” Sejauh ini, UEA telah berhenti sejenak dari normalisasi publik dengan Israel.*/Nashirul Haq AR