Hidayatullah.com–Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hari Rabu dalam sambutannya menghadiri pemakaman wanita hamil korban Partai Buruh Kurdistan / Partiya Karkerên Kurdistanê (PKK) mengatakan para teroris akan “membayar pembantaian” seorang bayi tentara Turki dan istrinya melalui bom.
“Mereka [kelompok teror PKK] akan membayar pembantaian itu,” kata Erdogan pada upacara pemakaman di distrik Sarkisla di Provinsi Sivas tengah dikutip TRTWorld.
Presiden menyampaikan belasungkawa kepada suami dan anggota keluarga Karakaya di pemakaman.
Baca: Senyum Iblis Geopolitik
Nurcan Karakaya, istri sang prajurit, dan bayi laki-lakinya yang berusia 11 bulan, Bedirhan Mustafa Karakaya, tewas pada hari Selasa malam (31/07/2018) ketika sebuah bom pinggir jalan yang ditanam oleh milisi PKK itu meledak di distrik Yuksekova, provinsi Hakkari tenggara.
Korban merupakan istri seorang tentara Turki itu, diketahui tengah mengandung (anak kedua). Sedangkan bayi berusia 11 bulan tersebut dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan karena luka parah yang dialami, tulis TRTWorld.
PKK telah melancarkan teror berdarah melawan Turki selama lebih dari 40 tahun. Setelah mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan beberapa negara Barat lainnya dengan dalih (kerjasama) memerangi teroris Daesh, para anggota kelompok tersebut telah eksis dan menguasai bagian utara Suriah, di mana ia beroperasi di bawah Partai Uni Demokrat (PYD) dan sayap bersenjata Unit Perlindungan Rakyat (YPG).
Sementara PKK diakui sebagai kelompok teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa, namun Washington menjadikan kelompok afiliasi PKK sebagai bagian dari sekutunya di Suriahnya, yaitu YPG, dalam upaya memerangi ISIS. Situasi tersebut sering menimbulkan reaksi keras dari Turki terhadap AS sebagai sesame sekutu dalam NATO.
Karena dukungan besar dari militer AS, kelompok ini terus bertahan dan banyak membunuh warga sipil yang tidak bersalah di Turki, Suriah dan Iraq.
Sejak PKK melanjutkan kembali pemberontakan militernya melawan Turki pada Juli 2015, mereka telah bertanggung jawab atas kematian lebih dari 1.200 personil keamanan dan warga sipil Turki, termasuk sejumlah wanita dan anak-anak.*/Nashirul Haq AR