Hidayatullah.com– Hujan lebat hari Ahad (21/10/2018) menyebabkan terganggunya jalan, lalu lintas udara dan masuk rumah, serta menutup fasilitas umum di Qatar.
Ibu Kota Doha, mendapatkan hujan hampir satu tahun, menurut seorang ahli meteorologi senior aljazeera yang berbasis di Doha, Steff Gaulter.
“Abu Hamor (pinggiran kota) sekarang melaporkan 59.8mm. (Curah hujan tahunan rata-rata Doha adalah 77mm.),” Gaulter melalui akun twitter hari Sabtu.
Menjelang petang diperkirakan 61 mm hujan telah turun.
Maskapai penerbangan nasional Qatar Airways dipaksa untuk mengalihkan beberapa penerbangan. Beberapa penerbangan di Qatar dipaksa untuk mengalihkan ke Kuwait dan Iran.
“Karena kondisi cuaca di Doha, penerbangan tunduk pada penundaan untuk keberangkatan dan kedatangan,” kata Qatar Airways di Twitter dikutip alaraby.co.uk.
Otoritas pekerjaan umum Qatar mengeluarkan peringatan kepada pengemudi untuk menghindari terowongan karena banjir. Media sosial di Qatar menunjukkan mobil hampir sepenuhnya tenggelam di bawah air, setelah badai petir di Doha.
Rekaman lain menunjukkan air hujan mengalir ke bawah di dalam gedung ketika para pekerja berusaha mati-matian membersihkannya. Perpustakaan Nasional Qatar, terpaksa ditutup dan mengatakan akan tetap tutup pada hari Minggu untuk memastikan ‘keselamatan pengguna kami’. Kedutaan AS juga mengatakan akan ditutup pada hari Ahad karena kondisi cuaca.
Sebelum ini Arab Saudi berencana ‘mengucilkan’ Qatar dengan cara menggali kanal di antara perbatasan darat Qatar dan Arab Saudi. Batas waktu lelang tender untuk menggali kanal sepanjang 60 kilometer yang akan mengubah Qatar menjadi sebuah pulau, akan berakhir pada 25 Juni.
Lima perusahaan internasional dengan keahlian menggali Proyek “Kanal Salwa”, sejauh ini telah menyerahkan proposal mereka untuk kanal Salwa di wilayah Arab Saudi dan di sepanjang perbatasan Saudi-Qatar. Nama pemenang akan diumumkan dalam 90 hari dan perusahaan akan memiliki satu tahun untuk menyelesaikan tugas.
Langkah ini telah banyak dikritik dan dipandang sebagai cara untuk mencoba mengisolasi Qatar karena tidak mau tunduk pada Saudi-UEA pada isu-isu regional.*