Hidayatullah.com–Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah (Gerakan Perlawanan Islam/Hamas) telah meminta Presiden terpilih Brazil Jair Bolsonaro membatalkan keputusannya untuk merelokasi kedutaan Brazil di ‘Israel; ke Baitul Maqdis.
“Kami menolak keputusan presiden terpilih Brazil untuk merelokasi kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem,” kata pemimpin Hamas Sami Abu Zuhri yang dalam cuitannya di Twitter, Jumat dikutip Anadolu.
Dia menggambarkan keputusan pemimpin Brazil itu sebagai penghinaan terhadap rakyat Palestina, Negara Arab dan Muslim.
Sebelumnya, Presiden baru Brazil, Jair Bolsonaro, mengatakan pemerintah barunya akan memindah kedutaan mereka dari Tel Aviv menuju Baitul Maqdis , (Yerusalem), mengikuti jejak Amerika Serikat yang telah mendapat kecaman dunia.
“Seperti yang dinyayatakan dalam kampanye sebelumnya, kami bermaksud untuk melakukan pemindahah, ‘Israel’ adalah ‘negara berdaulat’ dan kami harus menghormatinya,” katanya melalui Twitter.
Dalam sebuah wawancara, Bolsonaro, 63, mengatakan penjajah ‘Israel’ memiliki hak untuk menentukan di mana ibu kotanya seperti yang dilakukan oleh Brasil yang memindahkan ibu kotanya dari Rio de Janeiro ke Brasilia pada tahun 1960.
Bolsonaro mengumumkan niatnya untuk merelokasi kedutaan negaranya dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis hari Kamis setelah dia secara resmi menduduki jabatan kepresidenan.
Presiden AS Donald Trump memicu kecaman dunia pada Desember lalu setelah dia mengumumkan rencana untuk memindahkan kedutaan AS di Israel ke Baitul Maqdis, untuk mengakui kota itu sebagai ibu kota ‘Israel’.
Sejak itu, kepemimpinan Palestina di Ramallah telah menolak keterlibatan AS dalam proses perdamaian Timur Tengah yang hampir mati.
Baitul Maqdis masih berada di poros konflik Timur Tengah, karena Palestina mengharapkan Yerusalem Timur – yang diduduki penjajah ‘Israel’ sejak 1967 – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibu kota negara Palestina merdeka.
Sebelumnya, Guatemala dan Paraguay telah mengambil langkah kontroversial, tetapi kedua negara mengumumkan bahwa mereka akan memukimkan kembali kedutaan mereka masing-masing ke Tel Aviv.
Sementara itu, kemenangan pemimpin senior dalam pemilihan di Brazil pada hari Ahad memicu protes oposisi karena ia sering menggunakan retorika rasial.*