Hidayatullah.com—Kejaksaan federal Jerman hari Selasa (15/1/2019) mengatakan bahwa seorang pegawai di militer Jerman (Bundeswehr) telah ditahan dengan tuduhan menjadi mata-mata untuk dinas intelijen Iran.
Kantor kejaksaan mengatakan dalam pernyataannya bahwa pria berusia 50 tahun berkewarganegaraan Jerman-Afghanistan itu, yang namanya hanya bisa disebut sebagai Abdul Hamid S, merupakan ahli bahasa dan menjadi penasihat kebudayaan untuk angkatan bersenjata Jerman.
“Abdul Hamid S diduga kuat bekerja untuk sebuah dinas intelijen asing,” kata pihak kejaksaan seperti dilansir DW.
Majalah Jerman Der Spiegel melaporkan bahwa tersangka memiliki akses atas informasi sensitif, termasuk data rinci pengerahan tentara Jerman di Afghanistan. Disebutkan bahwa pria itu sudah bekerja untuk dinas intelijen Iran selama bertahun-tahun.
Bundeswehr sering menggunakan penerjemah orang lokal untuk mendampingi pasukannya ketika berpatroli di Afghanistan. Pria Afghanistan itu dikabarkan ditangkap di daerah Rheinland (Jerman bagian barat sekitar Sungai Rhein).
Dinas-dinas intelijen Jerman dan Eropa belakangan khawatir dengan apa yang mereka lihat sebagai peningkatan aksi mata-mata oleh Iran.
Dinas intelijen domestik Jerman pada bulan Juli melaporkan bahwa Iran meningkatkan kemampuan perang sibernya dan membahayakan perusahaan-perusahaan Jerman.
Sebelum ini Jerman beberapa kali menangkap orang yang bekerja untuk kepentingan intelijen asing di wilayahnya.
Pada tahun 2016, mantan agen dinas rahasia Jerman Markus Reichel dinyatakan bersalah bekerja untuk kepentingan intelijen Amerika Serikat CIA sekaligus telik sandi Rusia.
Pada tahun 2013, pengadilan Jerman memenjarakan sepasang suami-istri yang kedapatan menjadi mata-mata untuk Rusia. Mereka diketahui bekerja untuk dinas rahasia Moskow selama 20 tahun. Keduanya ditanam di wilayah Jerman Barat dari tahun 1988 oleh dinas intelijen Uni Soviet KGB, yang kemudian berubah menjadi SVR.*