Hidayatullah.com–Saudara laki-laki pemimpin pemberontak Syiah di Yaman Abdul Malik al-Houthi telah tewas “dibunuh”, kata saluran TV kelompok itu Al-Masirah.
“Ibrahim Badruddine Amir al-Din al-Houthi telah dibunuh di tangan para pengkhianat” yang bekerja untuk koalisi yang dipimpin Saudi, kata pemberontak Houthi dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh saluran tersebut.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional didukung oleh koalisi militer yang dipimpin Saudi melawan pemberontak yang didudung Iran, dalam perang yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun.
Pemberontak Syiah ini tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang dugaan pembunuhan, tetapi mengatakan mereka akan melakukan segalanya “untuk mengejar agresor kriminal” yang bertanggung jawab dan membawa mereka ke pengadilan.
Satu sumber keamanan Yaman, yang menolak disebutkan namanya, mengatakan bahwa Ibrahim al-Houthi dekat dengan saudara lelakinya dan yang merupakan komandan pemberontak untuk Saada, kubu Houthi di Yaman utara berbatasan dengan Arab Saudi.
Mayat Ibrahim ditemukan bersama dengan beberapa komandan Houthi di sebuah rumah di Kota Haddeh, kutip Gulf Times.
Rumah itu diduga telah menjadi sasaran serangan roket koalisi yang dipimpin Saudi.
Penyiar milik Arab Saudi Al Arabiya melaporkan bahwa Ibrahim tewas bersama dengan delapan pengawal pada hari Selasa di ibu kota yang dikuasai pemberontak Sanaa.
Ibrahim, yang diperkirakan berusia tiga puluhan, dianggap sebagai ahli strategi kunci untuk operasi militer pemberontak di daerah-daerah yang berbatasan dengan Arab Saudi.
Perang Yaman telah menewaskan puluhan ribu orang, termasuk banyak warga sipil, menurut berbagai organisasi kemanusiaan.
Baca: Kepala Staf Militer Yaman Mengonfirmasi Kelanjutan Mengahiri Kudeta
Sekitar 3,3 juta orang terlantar dan 24,1 juta – lebih dari dua pertiga populasi – membutuhkan bantuan, menurut PBB, yang memandang krisis kemanusiaan Yaman sebagai yang terburuk di dunia.
Sementara itu, Program Pangan Dunia (WFP) kemarin mengatakan akan melanjutkan pembagian makanan kepada 850.000 orang di Sanaa minggu depan setelah penghentian dua bulan, setelah mencapai kesepakatan pihak berwenang Houthi.
Badan PBB menghentikan bantuan di Sanaa pada 20 Juni karena khawatir makanan dialihkan dari orang-orang yang rentan, tetapi mengatakan akan mempertahankan program gizi untuk anak-anak yang kekurangan gizi, ibu hamil dan menyusui.
Pihak-pihak yang bertikai dalam konflik Yaman keduanya menggunakan akses ke bantuan dan makanan sebagai alat politik.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan kemarin, WFP mengatakan akan melanjutkan distribusi makanan setelah Idul Adha yang berakhir pada 13 Agustus.*