Hidayatullah.com-Presiden AS Donald Trump mengultimatum Putra Mahkota Saudi Mohammad Bin Salman(MbS) untuk memotong produksi minyaknya. Kemudian Trump mengancam untuk menarik pasukannya di Arab Saudi, demikian laporan Reuters.
Dalam laporan itu, Trump menghubungi MbS lewat sambungan telepon pada 2 April lalu dan mengatakn kepadanya bahwa ia tidak bisa menghentikan parlemen AS akan meloloskan undang-undang untuk menarik pasukan AS dari Arab Saudi, kecuali Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mulai memotong produksi minyaknya.
Sebelumnya akibat perang harga yang dilakukan MbS dengan Presiden Rusia Vladimir Putin harga minyak mengalami krisis dan telah mengguncang industri minyak global selama dua bulan terakhir.
Ancaman Trump itu berupa mengakhiri aliansi strategis yang sudah berjalan selama 75 tahun AS-Arab Saudi. Sumber dari AS mengatakan bahwa MbS sangat terkejut dengan ancaman itu dan memerintahkan para pembantunya untuk meninggalkan ruangan untuk melanjutkan panggilan secara pribadi.
Satu minggu sebelum panggilan telepon Trump-MbS, wacana penarikan pasukan mulai digerakkan ketika Senator dari Partai Republik Kevin Cramer dan Dan Sullivan menyerukan undang-undang penarikan pasukan jika Arab Saudi tidak mematuhi permintaan Amerika untuk memotong produksi minyaknya.
Krisis harga minyak telah mengguncang pasar global selama dua bulan terakhir sejak Arab Saudi secara tajam meningkatkan produksi minyaknya setelah ketegangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di telepon, yang mengakibatkan harga minyak turun hingga $ 25 per barel. Harga kemudian jatuh lebih jauh di pasar global. Industri minyak kemudian terpengaruh secara signifikan ketika harga minyak mentah AS turun di bawah nol ke angka negatif.*