Hidayatullah.com—Meskipun wabah coronavirus sedang merebak di kawasan Amerika Latin, tetapi wabah korupsi terus merajalela.
Mulai dari Argentina hingga Panama, jumlah pejabat yang dipaksa mundur karena terlibat korupsi pembelian ventilator, masker dan suplai medis lain terus bertambah. Penyelewengan uang negara itu didorong oleh kenaikan harga oleh pabrik dan makelar yang memiliki koneksi politik yang melihat wabah sebagai peluang mendulang uang di tengah bencana.
“Kapan saja apabila ada situasi bencana, aturan pembelanjaan dilonggarkan dan akan selalu ada orang yang berusaha memanfaatkan peluang itu untuk mendapatkan laba,” kata Jose Ugaz, seorang mantan jaksa yang pernah menjebloskan bekas presiden Alberto Fujimori ke penjara dan pernah menjabat ketua Transparency International dari tahun 2014 sampai 2017.
Dilansir Associated Press (26/5/2020), polisi di Rio de Janeiro menggerebek rumah kediaman gubernur setempat sebagai bagian dari penyelidikan korupsi dana publik $150 juta untuk pendirian rumah sakit lapangan.
Di Kolombia 14 dari 32 gubernur yang ada saat ini sedang diselidiki dalam berbagai kasus mulai dari penyelewengan dana publik sampai memberikan kontrak kepada pihak tertentu tanpa tender.
Di ibu kota Argentina, Buenos Aires, pihak kejaksaan sedang menyelidiki kroni politik dalam pembelian 15.000 buah masker N95, yang meskipun barangnya sudah kadaluarsa tetapi harus dibayar dengan uang negara 10 kali lipat harga normal.
Mungkin yang paling keterlaluan adalah di Bolivia. Menteri Kesehatan ditangkap di tengah-tengah tuduh bahwa 170 ventilator dibeli pemerintah dengan harga yang digelembungkan. Satu unit alat bantu pernapasan itu dibeli masing-masing dengan harga hampir $28.000. Padahal, pabrikan penjualnya di Spanyol mengatakan barangnya dijual ke pihak distributor dengan harga hanya 6.000 euro atau $6.500. Lebih parah lagi, ventilator itu tidak cocok untuk dipergunakan dalam perawatan pasien jangka panjang.
Seorang pembantu senior Presiden Panama Laurentino Cortizo mengundurkan diri, sementara Wakil Presiden Panama mendapatkan tekanan agar segera mundur, setelah bulan lalu pihak kejaksaan memulai penyelidikan atas rencana pembelian 100 ventilator dengan harga satuan hampir $50.000.
Negara-negara Amerika Latin secara konsisten termasuk negara yang paling korup. Survei teranyar oleh Transparency International yang berbasis di Berlin mendapati bahwa lebih dari setengah penduduk di negara-negara Amerika Latin menilai masalah korupsi justru semakin parah. Satu dari lima responden mengaku pernah memberikan uang suap kepada aparat setahun terakhir. Skandal yang melibatkan aparat mencuri uang program makanan sehat untuk anak sekolah, penyerahan tas berisi uang suap atau menempatkan pacar alias kekasih di jabatan yang empuk bukanlah kabar asing di kalangan warga negara di kawasan Amerika Tengah dan Selatan.*