Hidayatullah.com—Pada 15 Agustus, Ibu Negara Turki Emine Erdogan mengunggah sebuah foto pertemuannya dengan bintang Bollywood Amir Khan di Twitter. Unggahan itu langsung viral.
“Saya sangat senang bertemu @aamir_khan, aktor, pembuat film, dan sutradara India yang terkenal di dunia, di Istanbul…” Emine Erdogan mentweet setelah bertemu dengan aktor Muslim, yang berada di Turki untuk syuting film terbarunya, Laal Singh Chaddha. Seperti yang dilaporkan Al Jazeera (28/08/2020).
Para pendukung pro-pemerintah India sangat marah kepada Khan karena berfoto dengan istri dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan itu. Erdogan adalah salah satu dari beberapa kepala negara yang mengkritik keputusan India yang mencabut status khusus Kashmir yang dikelola negara sekular itu pada Agustus lalu.
Erdogan mendukung Pakistan dalam sengketa Kashmir, sebuah wilayah yang diklaim Pakistan dan India sebagai milik mereka. Hal itu menyebabkan Kashmir menjadi dua bagian, satu bagian dikelola Pakistan dan bagian lain dikelola India.
New Delhi mengatakan kepada Ankara untuk tidak “mencampuri” urusan dalam negerinya setelah Presiden Erdogan menyatakan keprihatinannya atas situasi yang memburuk di wilayah mayoritas Muslim itu, yang telah diisolasi sejak otonomi terbatasnya dicabut pada 5 Agustus 2019. India juga mengecam Malaysia karena mengkritik langkah Kashmirnya dengan melarang impor minyak sawit dari negara Asia Pasifik tersebut.
Khan, salah satu bintang Bollywood terbesar, segera menjadi trending topic Twitter bersama dengan Erdogan, dengan nasionalis Hindu mencap bintang film itu “anti-nasional” dan “tidak patriotik” karena berdiri dengan “musuh”.
Serangan-serangan kritik nasionalis Hindu tidak terbatas pada media sosial, di mana mereka mendominasi. Sebuah laporan baru-baru ini oleh The Wall Street Journal mengatakan eksekutif Facebook India gagal menghentikan unggahan anti-Muslim oleh para pemimpin partai yang berkuasa di mana Facebook memiliki sekitar 300 juta pengguna di India.
Minggu ini, organisasi relawan sayap kanan Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), yang merupakan induk ideologis dari Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa, mengkritik hubungan Khan dengan Turki, dengan mengatakan dia “menjalin persahabatan dengan mereka yang dianggap musuh India”.
Majalah RSS, Organizer, menempatkan Khan di sampulnya dengan menyebutnya “Khan yang disukai Naga”, merujuk ke China.
Bintang berusia 55 tahun itu diserang karena popularitasnya yang luar biasa di China, yang dituduh melanggar batas wilayah India di Line of Actual Control (LAC) – perbatasan de facto antara kedua negara Asia.
“Amir tampaknya disukai oleh sistem Partai Komunis China dan fakta bahwa film-filmnya berjalan dengan baik merupakan indikasi bahwa dia dipromosikan oleh negara China,” editor majalah mingguan Hitesh Shankar mengatakan di sebuah situs berita.
Meningkatnya marjinalisasi Muslim
Khan adalah duta merek untuk ponsel pintar China Vivo, dan juga merupakan daya tarik utama di China daratan dengan film-film seperti Dangal (2016). Dia memiliki 1,16 juta pengikut di platform Twitter versi China, Weibo.
Perdana Menteri Narendra Modi telah memanaskan permusuhan terhadap China menyusul bentrokan mematikan di perbatasan Himalaya yang disengketakan pada 15 Juni. Modi adalah seorang nasionalis Hindu dan anggota milisi ekstrimis RSS seumur hidup.
Sejak Modi berkuasa pada 2014, pemerintah BJP telah memberlakukan sejumlah kebijakan yang menimbulkan kekhawatiran akan marjinalisasi terhadap 200 juta minoritas Muslim India.
Tahun lalu, pemerintah Modi mengeluarkan undang-undang kewarganegaraan yang menjadikan keyakinan sebagai dasar untuk memperoleh kewarganegaraan India di negara yang secara resmi sekuler itu. Undang-undang baru, yang memicu protes nasional, disebut “secara fundamental diskriminatif” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.*