Hidayatullah.com—Prancis akan mengembalikan artefak-artefak bersejarah hasil rampokan kepada Benin dan Senegal setelah anggota-anggota parlemen menyetujui restitusi terbatas ke dua negara tersebut hari Kamis (17/12/2020).
Benin akan menerima 26 artefak yang dijarah dari Istana Behanzin pada tahun 1892, termasuk mahkota kerajaan, yang saat ini dipamerkan di Museum Quai Branly-Jacques Chirac di Paris, lansir Euronews.
Senegal akan menerima pedang buatan abad ke-19 yang dulu milik El Hadj Omar, seorang tokoh politik dan militer besar di zamannya. Pedang dan sarungnya merupakan bagian dari koleksi museum militer Prancis, Musée de l’Armée, tetapi saat ini berda di Dakar sebagai bagian dari artefak pinjaman yang dipamerkan dalam jangka panjang.
Pengembalian barang-barang peninggalan sejarah itu disetujui oleh anggota parlemen Prancis dengan dukungan suara 48, nihil yang menentang dan dua suara abstain.
Yanick Kerlogot, seorang anggota parlemen dari partai pemerinta La Republique En Marche yang mengetuai komisi kebudayaan, menyebut hasil pemungutan suara itu sebagai aksi nyata yang ditujukan kepada para pemuda Afrika dan keturunan Afrika.
Institusi-institusi kebudayaan di negara-negara Barat, termasuk Quai Branly dan British Museum, beberapa tahun belakangan mendapat tekanan untuk mengembalikan artefak-artefak asing yang menjadi bagian koleksinya ke negara aslinya.
Menurut Kerlogot, saat ini sedang dilakukan investigasi untuk menentukan negara asal 240 artefak Afrika yang menjadi koleksi Quai Branly yang diduga merupakan barang hasil curian atau penjarahan.
Museum ternama Prancis itu saat ini memiliki 300.000 artefak hasil karya bangsa Afrika, Asia, Oseania, dan Amerika, yang 70.000 di antaranya berasal dari Benua Afrika.*