Hidayatullah.com–Amnesty International mendesak Bangladesh untuk menghentikan relokasi ribuan muhajirin (pengungsi) Rohingya ke Bhashan Char, sebuah pulau terpencil di Teluk Benggala, lapor The New Arab. Bangladesh memulai transfer pada Kamis (31/12/2020) di tengah kecaman berkelanjutan dari kelompok hak asasi manusia.
“Pihak berwenang harus segera menghentikan relokasi lebih banyak pengungsi ke Bhashan Char, mengembalikan mereka yang berada di pulau itu ke keluarga dan komunitas mereka di daratan Bangladesh,” kata Saad Hammadi, Juru Kampanye Asia Selatan Amnesty International, dalam sebuah pernyataan. “Relokasi begitu banyak pengungsi Rohingya ke pulau terpencil, yang masih terlarang bagi semua orang termasuk kelompok hak asasi manusia dan jurnalis tanpa izin sebelumnya, menimbulkan kekhawatiran besar tentang pemantauan hak asasi manusia secara independen,” tambahnya.
Bhashan Char, pulau rawan banjir yang dibentuk oleh endapan lumpur Himalaya pada tahun 2006, telah ditetapkan oleh Bangladesh sebagai rumah baru bagi 100.000 pengungsi Rohingya. Pada hari Rabu, PBB di Bangladesh menyoroti bahwa mereka belum diajak berkonsultasi atau dilibatkan dalam proses relokasi.
Badan internasional tersebut mengeluarkan pernyataan yang menekankan bahwa “Pengungsi Rohingya harus dapat membuat keputusan yang bebas dan terinformasi tentang relokasi ke Bhasan Char berdasarkan informasi yang relevan, akurat, dan terkini”.
Laporan yang muncul dari Bangladesh menyatakan bahwa beberapa pengungsi telah dipaksa pindah ke pulau itu oleh pihak berwenang. Seseorang yang telah terdaftar sebagai bersedia untuk pindah bersembunyi pada hari Kamis, menurut Reuters.
Sekitar 730.000 pengungsi Muslim Rohingya meninggalkan rumah mereka di Myanmar pada 2017 setelah tindakan keras pimpinan militer yang menurut PBB dilakukan dengan maksud genosida. Myanmar membantah telah menganiaya Muslim Rohingya, mengklaim pihaknya menindak kelompok militan di Negara Bagian Rakhine.*