Hidayatullah.com—CEO bandara Gatwick menyalahkan pemerintah Inggris atas kerugian yang dialaminya selama pandemi Covid-19.
Bandara Gatwick menyalahkan pembatasan Covid-19 yang diberlakukan pemerintah Inggris sebagai penyebab kerugian jutaan pound yang dialaminya, dan mengatakan sedang melakukan pembicaraan dengan pihak bank untuk menghindari gagal bayar utang-utangnya.
Bandara internasional yang terletak di
West Sussex itu tetap buka tahun ini, tetapi mengalami penurunan jumlah penumpang secara drastis sehingga mengalami kerugian sebelum pajak £204 juta.
Tahun lalu, bandara memberhentikan lebih dari 40% karyawan.
CEO Stewart Wingate minta pemerintah bertindak segera mencabut peraturan yang dianggapnya tidak perlu dan berbiaya banyak.
Dia mengatakan bahwa berkat program vaksinasi besar-besaran yang dijalankan pemerintah sekarang warga Inggris sudah mulai menikmati sejumlah kebebasan dalam beraktivitas. Namun, pada saat yang sama keuntungan tersebut justru tidak dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali perjalanan internasional.
“Pemerintah kita perlu bertindak sekarang dan menghapus persyaratan tes PCR yang tidak perlu dan mahal bagi penumpang, terutama bagi mereka yang sudah divaksinasi lengkap,” kata Wingate seperti dilansir The Guardian.
“Pemulihan perjalanan Inggris seharusnya tidak boleh tertinggal di belakang AS dan Eropa.”
“Penumpang membutuhkan aturan perjalanan yang lebih sederhana sehingga mereka dapat bebas bepergian dan menikmati istirahat serta reuni yang sangat dibutuhkan bersama keluarga dan teman, yang hal tersebut saat ini jauh lebih mudah untuk dilakukukan oleh mereka yang tinggal di Eropa atau AS,” imbuhnya.*