Hidayatullah.com—Hampir tiga juta pekerja di negara anggota Uni Eropa tidak sanggup untuk menyediakan pemanas ruangan di rumahnya di tengah meningkatnya krisis energi.
European Trade Union Confederation (ETUC) mengatakan bahwa 15% pekerja UE tidak memiliki cukup uang untuk pemanas ruangan yang sangat diperlukan untuk melewati kehidupan di musim dingin.
Menurut laporan yang dirilis hari Rabu (22/9/2021) itu persentase tersebut setara dengan 2.713.578 orang.
Harga gas dan listrik naik di seluruh Eropa, sehingga tagihan kebutuhan energi yang sudah tinggi semakin mencekik orang-orang yang mengalami krisis keuangan selama pandemi Covid-19.
“Ada jutaan pekerja berupah rendah di Eropa yang harus memilih antara menghangatkan rumah mereka atau memberi makan anggota keluarganya secara layak atau membayar sewa meskipun mereka sudah bekerna purna waktu,” kata Deputi Sekjen ETUC Esther Lynch seperti dilansir Associated Press.
Konfederasi serikat pekerja itu meminta Uni Eropa agar menjamin upah minimum menurut undang-undang tidak kurang dari 60% dari upah rata-rata dan 50% dari upah rata-rata negara anggota UE mana pun.
Konfederasi itu mengatakan 20 negara anggota UE saat ini memiliki upah minimum menurut undang-undang yang berada di bawah level tersebut.
ETUC mengatakan Siprus memiliki persentase pekerja miskin tertinggi (45,6%) yang tidak mampu mengadakan pemanas di rumahnya, lebih tinggi dibanding Bulgaria, Lithuania, Portugal, Yunani, dan Italia.
Organisasi itu juga mengatakan situasinya memburuk di 10 negara UE selama dekade terakhir dan kenaikan harga energi baru-baru ini menjadikan semakin banyak pekerja berisiko terpuruk dalam kemiskinan energi.
Para menteri transportasi dan energi Uni Eropa bertemu pada hari Rabu di Slovenia untuk membahas paket iklim dan energi Uni Eropa “Fit for 55”.
Inisiatif itu dirancang untuk membantu 27 negara anggotanya mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 55% pada tahun 2030 dibandingkan dengan tingkat tahun 1990.*