Hidayatullah.com–Sebuah pernyataan akhir pekan kemarin yang dibuat oleh Presiden Angola João Lourenço yang terkesan mengecilkan masalah kelaparan di negaranya menuai banyak komentar marah di media sosial.
Dalam rekaman singkat yang disiarkan televisi, Loureço mengatakan kepada para pendukung partainya MPLA bahwa meskipun lawan-lawan politiknya senantiasa mengeluhkan soal kelaparan di Angola, “kelaparan itu relatif.”
Hal itu dikemukakan Lourenço sebagai jawaban atas kritik yang ditujukan kepada partainya, yang meskipun sudah puluhan tahun berkuasa masih belum mampu mengentaskan kemiskinan dan kelaparan.
“Ada pembicaraan tentang kelaparan dan lawan kita hari ini bangun di pagi hari dan di malam hari menyanyikan lagu: ‘Lapar, lapar, lapar..’ Kelaparan itu senantiasa relatif. Negara ini sudah punya banyak produksi pangan,” kata Presiden Angola itu.
Kurun enam bulan pertama tahun lalu saja sekitar 8.500 anak meninggal karena kelaparan di Angola, menurut data dari Direktorat Kesehatan Masyarakat Nasional (DNSP), seperti dilansir BBC Senin (13/12/2021) dari Novo Jornal.
Kenyataan itu merupakan salah satu alasan kenapa pernyataan Loureço membuat masyarakat marah.
Pendeta Jacinto Pio Wacussanga, koordinator organisasi nonpemerintah Plataforma Sul, mengatakan kepada BBC bahwa dia “terkejut” mendengar pernyataan itu.
“Tidak ada yang namanya kelaparan relatif di Angola, yang ada kelaparan absolut,” kata tokoh agama itu.
Pada bulan September tahun ini, lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa World Food Program (WFP) memperkirakan bahwa lebih dari 1,3 juta orang di bagian selatan Angola menghadapi “kelaparan parah karena kekeringan terburuk dalam 40 tahun terakhir membuat ladang mereka tandus, padang rumput kering, dan cadangan makanan habis”.*