Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Jerman Pikir-pikir untuk Larang Telegram

Ama Farah
Terakhir diupdate: 27 Januari 2022 14:54 2:54 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 27 Januari 2022 14:54
Bagikan
Telegram.
Bagikan

Hidayatullah.com–Jerman sedang mempertimbangkan untuk melarang aplikasi pesan terenkripsi Telegram, setelah menudingnya memfasilitasi pesan kebencian dan teori konspirasi. Aplikasi ini juga telah berulang kali mengabaikan permintaan agar menangkal penyebaran pesan kelompok anti-vaksin dan konten terkait lainnya.

Perdebatan tentang Telegram bersamaan dengan jadwal rapat parlemen Jerman yang akan membahas apakah vaksinasi Covid-19 harus menjadi diwajibkan. Selama beberapa pekan terakhir, demonstrasi anti-vaksinasi yang diwarnai kekerasan pecah di seluruh negeri.

Beberapa pejabat bahkan menerima ancaman pembunuhan karena berpihak pada pemerintah. Pada Desember 2021, satu grup Telegram Jerman membagikan pesan ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada gubernur negara bagian Saxony, sehingga memaksa polisi untuk bertindak tegas.

Salah satu saluran yang digunakan untuk memobilisasi pengunjuk rasa anti-vaksinasi adalah Telegram.

Platform pesan terenkripsi itu semakin populer di Jerman selama beberapa tahun terakhir. Antara 2018 dan 2021, pangsa pengguna yang secara teratur mengirim pesan di Telegram naik dari 7% menjadi 15%, menurut survei oleh perusahaan analisis data Jerman Statista.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Sebuah pesan yang dilihat oleh 25.000 pengguna berisi ajakan agar orang-orang yang menentang pembatasan Covid untuk membagikan alamat pribadi “anggota parlemen lokal, politisi, dan tokoh Jerman lainnya”, yang mereka yakini “berusaha menghancurkan” mereka melalui aturan pembatasan pandemi.

Pemerintah ingin aplikasi itu menghapus pesan yang berisi ancaman pembunuhan atau ujaran kebencian dan mengidentifikasi penulisnya, lansir Euronews Rabu (26/1/2022).

Menteri Dalam Negeri Jerman Nancy Faeser mengatakan jika Telegram tidak mematuhi aturan baru, pemerintah dapat mendenda atau bahkan melarang Telegram sepenuhnya – yang akan menjadikan Jerman sebagai negara Barat pertama yang melarang aplikasi tersebut.

Ini bukan pertama kalinya Jerman berusaha menangkal ujaran kebencian. Pada tahun 2017, Jerman mengeluarkan undang-undang kontroversial yang mengharuskan raksasa jejaring sosial untuk menghapus konten ilegal dan melaporkannya ke polisi.

Negara itu termasuk yang memiliki undang-undang tentang kebebasan berbicara yang paling ketat di dunia, terutama karena masa lalunya yang berkaitan dengan Nazi dan bangkitnya Sosialisme Nasional belakangan ini yang didorong oleh propaganda dan berita palsu. Sampai hari ini, menghasut kebencian dan kekerasan dapat membuat orang meringkuk dalam penjara di Jerman.

Telegram berulang kali menolak untuk bekerja sama dengan pihak berwenang. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2013 oleh pengusaha Rusia Pavel dan Nikolai Durov dengan peluang bagi pengguna untuk berkomunikasi tanpa khawatir diusik pemerintah atau penguasa.

Sejak itu, Telegram menjadi sarana komunikasi bagi para disiden mulai dari Rusia hingga Iran, membantu mereka mengatur aksi dan bertukar informasi di luar represi dan kendali pemerintah. Telegram dilarang atau diatur secara ketat di negara-negara seperti China, India, dan Belarusia.

Namun, “kebebasan” yang ditawarkan Telegram menjadikannya sebagai tempat yang aman bagi para peminat teori konspirasi dan ekstremis – terutama setelah banyak mereka yang diblokir oleh platform media sosial yang lebih besar seperti Facebook dan WhatsApp.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:JermanTelegram
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aliansi Misi Kurdi Rebut Kendali Kamp Penjara Ghwayran yang Diserang ISIS
Tulisan selanjutnya Rasisme, Karakteristik Sistem Politik ‘Israel’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?