Hidayatullah.com—Direktorat Komunikasi Turkiye meluncurkan dua buku tentang Masjid Hagia Sophia (ayasofya) Istanbul, sehari sebelum ulang tahun kedua pembukaan kembali masjid dari museum. Buku tersebut berisi informasi tentang metode arsitektur masjid dan reaksi masyarakat Turkiye terhadap perubahan status masjid, menurut pernyataan direktorat.
“Hagia Sophia telah menjadi masjid lagi … mimpi yang menjadi kenyataan, tidak hanya untuk Turkiye tetapi untuk semua Muslim di seluruh dunia,” tulis Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan di kata pengantar buku tersebut dikutip Anadolu Agency.
Dia mengatakan, dengan karakteristik sejarah, agama, dan budaya masjid, itu melambangkan tindakan terbaik dalam menangkal Islamofobia yang berkembang, terutama di Eropa, dan kejahatan kebencian terhadap Muslim di seluruh dunia. Direktorat juga merilis film dokumenter khusus tentang sembilan masjid berbeda di kota Anatolia, bernama Hagia Sophia.
Pada 10 Juli 2020, pengadilan Turki membatalkan dekrit Kabinet 1934 yang telah mengubah Hagia Sophia menjadi museum, membuka jalan untuk kembali sebagai masjid setelah 86 tahun. Monumen tersebut dipugar kembali sebagai Masjid Agung Hagia Sophia tepat pada 24 Juli 2020, dan dilakukan shalat Jumat pertama kali setelah 86 tahun.
Hagia Sophia berfungsi sebagai gereja selama 916 tahun dan 86 tahun sebagai museum. Namun, tempat bersejarah itu berfungsi sebagai masjid antara tahun 1453-1934, hampir 500 tahun.
Pada tahun 1985, Hagia Sophia ditambahkan ke Daftar Warisan Dunia UNESCO. Ini adalah salah satu tujuan wisata utama Turki dan tetap terbuka untuk pengunjung domestik dan asing.*