Hidayatullah.com– Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa wabah cacar monyet yang sedang merebak di seluruh dunia saat ini tidak ada kaitannya dengan monyet, menyusul kabar pembantaian hewan primata itu di Brazil.
“Yang perlu diketahui masyarakat adalah bahwa penularan yang kita lihat sekarang ini terjadi di antara manusia,” kata juru bicara WHO Margaret Harris kepada wartawan di Jenewa (9/8/2022).
Dia mengatakan primata itu tidak dapat disalahkan atas lonjakan kasus cacar monyet di Brazil, menyusul laporan di sejumlah kota perihal serangan fisik dan keracunan monyet-monyet di negeri samba itu.
Di cagar alam di Rio Preto, negara bagian São Paulo, 10 monyet tampaknya telah diracun atau dilukai dengan sengaja kurun kurang dari sepekan, menurut situs berita lokal G1. Tim penyelamat dan aktivis menduga monyet-monyet itu diracun dan diserang setelah tiga kasus cacar monyet dikonfirmasi di daerah itu.
Menurut WHO, di Brazil telah terdapat lebih dari 1.700 kasus dan satu kematian akibat cacar monyet (monkeypox).
Harris menggarisbawahi bahwa terlepas dari namanya, monyet bukanlah penular utama penyakit dan tidak ada hubungannya dengan wabah tersebut. Monkeypox menerima namanya karena virus pertama kali diidentifikasi terdapat pada monyet-monyet yang dipelihara untuk riset di Denmark. Namun, penyakit itu sendiri ditemukan di sejumlah hewan, paling banyak di kalangan hewan pengerat.
Virus penyakit itu, yang berasal satu keluarga dengan virus cacar, dapat melompat atau menular dari hewan ke manusia. Namun, wabah sekarang ini lebih disebabkan kontak dekat antarmanusia.
Hampir semua kasus cacar monyet di seluruh dunia sejauh ini terjadi di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki atau kalangan gay dan biseksual.
Oleh karena itu, kata Harris, masyarakat “tentu saja tidak boleh menyerang binatang apa pun”.*