Hidayatullah.com– Amerika Serikat, hari Senin (14/11/2022), meningkatkan jumlah hadiah menjadi $10 juta untuk setiap informasi yang berguna untuk penangkapan tokoh-tokoh Al-Shabab.
Departemen Luar Negeri AS juga mengatakan untuk pertama kalinya menawarkan hadiah sampai $10 juta untuk informasi yang dapat “melumpuhkan mekanisme finansial” kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda tersebut, lapor AFP.
AS mengatakan ada hadiah hingga $10 juta untuk masing-masing informasi yang mengarah pada identifikasi “amir” Al-Shabab Ahmed Diriye, orang kuat kedua Mahad Karate, serta Jehad Serwan Mostafa seorang warga AS yang dikatakan memiliki berbagai peran dalam kelompok tersebut.
“Para pemimpin utama Al-Shabab ini bertanggung jawab atas berbagai serangan teroris di Somalia, Kenya, dan negara-negara tetangga yang telah menewaskan ribuan orang,” kata sebuah poster yang dikeluarkan oleh AS dengan menampilkan potret wajah ketiga pria itu.
Kelompok tersebut, yang ditetapkan sebagai organisasi teroris asing oleh Departemen Luar Negeri pada Maret 2008, berusaha untuk menggulingkan pemerintah dukungan asing yang rapuh di Mogadishu selama sekitar 15 tahun.
Para petempur Al-Shabab diusir dari Mogadishu pada tahun 2011 oleh pasukan Uni Afrika, tetapi kelompok itu masih menguasai banyak daerah pedesaan dan terus melakukan serangan mematikan terhadap warga sipil, politik dan militer.
Pada bulan Agustus, setelah pengepungan selama 30 jam di sebuah hotel di Mogadishu yang menewaskan sedikitnya 21 orang, pemerintahan baru Presiden Hassan Sheikh Mohamud menyatakan “perang habis-habisan” terhadap kelompok-kelompok bersenjata Muslim, yang ingin menerapkan hukum Islam secara ketat.
Dalam serangan paling mematikan kurun lima tahun, dua ledakan bom pada 29 Oktober yang diklaim oleh Al-Shabab menewaskan sedikitnya 121 orang dan melukai 333 lainnya di Mogadishu, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa mengutip angka dari pemerintah Somalia.
Dalam pernyataannya Departemen Luar Negeri AS mengatakan Diriye, yang memimpin Al-Shabab sejak September 2014 setelah kematian Ahmed Abdi Godane dalam serangan udara AS, pada April 2015 dinyatakan oleh Washington sebagai seorang teroris global yang diburu, dan pada tahun yang sama dia dikenai sanksi oleh PBB.
Karate, yang juga dinyatakan sebagai seorang teroris pada April 2015 dan dikenai sanksi PBB, masih terus memimpin operasi-operasi Al-Shabab, kata AS. Dia juga memiliki sebagian kekuasaan di Amniyat, unit intelijen dan sekuriti kelompok tersebut, yang mengawasi pelaksanaan serangan-serangan bunuh diri dan asasinasi di Somalia, Kenya dan sejumlah negara tetangga. Amniyat juga menyediakan logistik dan memberikan dukungan untuk aktivitas terorisme Al-Shabab.
Mostafa, seorang warga negara AS yang pernah tinggal di California, menjadi instruktur militer di kamp pelatihan Al-Shabab, memimpin para petempur asing, memimpin sayap media kelompok tersebut, serta menjadi penghubung dengan kelompok-kelompok bersenjata lain. Dia juga unggul dalam hal penggunaan bahan peledak, kata AS. Pada Desember 2019, dia didakwa di pengadilan AS dengan tuduhan yang terkait dengan Al-Shabab.
“FBI menilai Mostafa sebagai teroris peringkat tertinggi yang berkewarganegaraan AS yang berperang di luar negeri.”
Pada bulan Mei, Presiden AS Joe Biden memutuskan untuk menempatkan kembali pasukan militer di Somalia, menyetujui permintaan dari Pentagon, yang menganggap sistem rotasi pendahulunya Donald Trump terlalu berisiko dan tidak efektif.
Kepala kantor hak asasi manusia PBB Volker Turk mengatakan Senin pagi bahwa lebih dari 600 warga sipil tewas dan 948 terluka sepanjang tahun ini dalam serangan yang sebagian besar dikaitkan dengan Al-Shabab. Angka itu tertinggi sejak 2017 dan naik 30 persen dari tahun lalu.*