Hidayatullah.com– Sedikitnya 46 orang tewas dan 16 hilang setelah gempa berkekuatan 6,8 mengguncang Provinsi Sichuan di barat daya China pada hari Senin (5/9/2022) memicu longsor dan mengguncang bangunan-bangunan di ibukota Chengdu, yang 21 juta penduduknya sedang berada di bawah aturan lockdown Covid-19.
Gempa mengguncang daerah pegunungan di Luding siang menjelang sore, kata China Earthquake Networks Center seperti dilansir Associated Press Selasa (6/9/2022).
Sichuan, yang terletak di tepian Dataran Tinggi Tibet tempat pertemuan lempeng tektonik, sering dilanda gempa bumi. Dua gempa yang terjadi pada bulan Juni menewaskan sedikitnya empat orang.
Listrik padam dan banyak bangunan rusak di kota bersejarah Moci di Prefektur Garze di wilayah otonomi Tibet, di mana 29 orang dilaporkan tewas. Tenda telah didirikan untuk lebih dari 50.000 orang yang dievakuasi dari rumah yang tidak aman akibat gempa, lapor kantor berita resmi Xinhua Selasa.
Stasiun televisi plat merah CCTV menayangkan rekaman video kru penyelamat sedang menarik seorang wanita yang tampak tidak terluka dari sebuah rumah yang runtuh di Moxi, di mana banyak bangunan dibuat dari campuran kayu dan batu bata. Sekitar 150 orang dilaporkan mengalami berbagai tingkat cedera.
Sebelumnya, pihak berwenang melaporkan 7 kematian di daerah Luding dan 14 lainnya di daerah tetangga Shimian di selatan. Tiga dari mereka yang tewas adalah pekerja di Hailuogou Scenic Area, kawasan cagar alam berupa gletser dan hutan.
Selain kematian, pihak berwenang juga melaporkan batu dan tanah longsor dari lereng gunung, sehingga menyebabkan kerusakan pada rumah dan gangguan aliran listrik serta jalanan terblokir, kata CCTV.
Bangunan terasa bergoyang di Chengdu ketika gempa terjadi meskipun jaraknya 200 kilometer dari pusat gempa.
Warga setempat Jiang Danli mengatakan dia bersembunyi di bawah meja selama lima menit di apartemennya di lantai 31. Banyak tetangganya bergegas turun, khawatir ada gempa susulan.
“Ada gempa bumi yang kuat pada bulan Juni, tetapi itu tidak terlalu menakutkan. Kali ini saya benar-benar takut, karena saya tinggal di lantai yang tinggi dan getarannya membuat saya pusing,” katanya kepada The Associated Press.
Dua bulan terakhir di Chengdu rasanya “aneh,” kata Jiang.
US Geological Survey mencatat gempa hari Senin itu bermagnitudo 6,6 di kedalaman yang relatif dangkal 10 kilometer (6 mil).
Gempa paling mematikan di China dalam beberapa tahun terakhir adalah gempa berkekuatan 7,9 pada tahun 2008 yang menewaskan hampir 90.000 orang di Sichuan. Gempa tersebut menghancurkan kota-kota, sekolah-sekolah dan masyarakat pedesaan di luar Chengdu. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kembali Chengdu dengan bahan-bahan yang lebih tahan gempa.*