Hidayatullah.com– Rakyat Malaysia berpihak pada keputusan Perdana Menteri Mahathir Mohammad yang tidak menuruti tekanan India untuk mengekstradisi pendakwah internasional, Dr Zakir Naik.
“Kami sepenuhnya mendukung sikap pemerintah yang diumumkan oleh Perdana Menteri Tun Dr Mahathir untuk tidak mengekstradisi Dr Zakir Naik sebagaimana diadili oleh pemerintah India melalui Pengadilan,” ujar Mohd Azmi Abdul Hamid, Presiden Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM).
MAPIM berpendapat apa yang menimpa Dr Zakir hanyalah tuduhan hasutan dari pemerintah BJP setelah India gagal membuktikan banyak tuduhan untuk menjerat dai yang dikenal ahli perbandingan agama ini.
“Ketika kelompok-kelompok ekstremis keagamaan di bawah pengaruh klan RSS (organisasi-organisasi ekstremis nasionalis dan Hindu) terus menekankan bahwa tindakan terhadap Dr Zakir diambil, sekarang tuduhan pencucian uang oleh Dr Zakir dijadikan pilihan tuduhan,” ujarnya.
Inilah sebabnya mengapa pendapat Tun Dr Mahathir adalah bahwa Dr Zakir tidak akan memiliki persidangan yang adil di pengadilan India.
“Kami percaya bahwa Dr Zakir adalah seorang intelektual Islam yang diakui di seluruh dunia. Ia diakui oleh negara-negara Islam. Argumen dan ceramahnya tidak ada yang bisa merayu atau menghina agama lain seperti yang diklaim,” ujar MAPIM.
Sementara itu, Mufti Negara Bagian Kelantan, Datuk Muhamad Shukri Muhamad, menggambarkan tindakan Mahathir Mohamad menolak ekstradisi Dr Zakir Naik sebagai pertimbangan yang masuk akal untuk melihat yang buruk dan situasi saat ini dan dapat dilihat sebagai bentuk siyasah syariah.
“Dalam syariah siyasah ada sesuatu yang harus dilarang dan hal-hal ilegal bisa diperlukan tergantung situasinya.
“Pihak berwenang harus mengurus semuanya dengan memandang mereka dengan buruk sebelum mempertimbangkannya,” katanya kepada Daily Star.
Sementara Pemuda PAS melalui ketuanya, Muhammad Khalil Abdul Hadi, juga setuju dengan pernyataan Dr Mahathir yang menggambarkan ketegasannya dengan membandingkan tindakan Australia sampai hari ini yang telah menolak Sirul Azhar Umar ke Malaysia yang dihukum karena pembunuhan.
“Saya mendukung tindakan Perdana Menteri Tun Dr Mahathir Mohamad untuk tidak mengekstradisi pendakwah internasional Dr Zakir Naik ke India karena kekhawatirannya bahwa ia tidak akan mendapatkan keadilan yang tepat,” katanya dalam sebuah pernyataan, Rabu (12/6).
“Zakir Naik adalah tamu di Malaysia dan selama tinggal di Malaysia, ia tidak melakukan kesalahan, tetapi kehadirannya disukai oleh sebagian besar orang di Malaysia,” ujarnya. Ia percaya dengan kredibilitas Dr Zakir Naik sebagai pendakwah internasional membuat Mahathir tak menuruti India.
Sebelum ini, PM Mahathir Mohamad telah menegaskan negaranya punya hak untuk tidak mengekstradisi ulama Dr Zakir Naik ke India.
Menurut Mahathir, ekstradisi tidak akan dilakukan jika Zakir jelas-jelas diperlakukan secara tidak adil.
“Secara umum Zakir merasa bahwa pengadilan (India) tidak akan memperlakukannya secara adil,” kata Mahathir, seperti dikutip dari The Star, Selasa (11/6).
Kondisi ini, lanjut dia, sama seperti Australia yang menolak memulangkan warga Malaysia, Sirul Azhar Umar, terpidana kasus pembunuhan model cantik asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu, pada 2015.
“Kami sudah meminta Australia untuk mengekstradisi Sirul tapi mereka khawatir kami akan mengirimnya ke tiang gantung,” kata Mahathir.
India terus mengupayakan untuk membawa pulang dan mengadili ulama yang dikenal karena memfasilitasi banyak orang di dunia untuk masuk Islam itu. India juga menjajaki bekerja sama dengan Interpol untuk menahan Zakir Naik atas tuduhan pencucian uang, tuduhan yang dinilai dibuat-buat.*