Hidayatullah.com–Palestine Solidarity Campaign (PSC) di Inggris telah memulai aksi boikot selama satu minggu terhadap beberapa jaringan supermarket besar yang menjual produk-produk Israel, sebagai bagian dari gerakan Boycott-Divestment-Sanctions (BDS).
Aksi boikot yang dilakukan selama satu pekan itu (7-15 Nop) menjadikan Waitrose dan Morrison sebagai targetnya, guna menekan agar toko-toko tersebut tidak lagi menjual buah-buahan dan sayuran yang dibudidayakan oleh Israel di lahan yang dikuasainya di Tepi Barat.
Para aktivis mengatakan bahwa mereka telah mencoba melakukan cara lain, seperti menyampaikan petisi agar toko-toko tersebut berhenti menjual ‘produk apartheid’, tapi hal tersebut tidak diindahkan oleh para manager toko.
Sarah Colborne dari PSC, sebagaimana dikutip media Inggris (8/11) mengatakan, “Kami secara khusus menjadikan Waitrose dan Morrison sebagai target karena mereka telah gagal dalam melakukan dialog dengan kami.”
Salah satu toko, Waitrose, mencoba membela diri dengan mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa produk yang mereka jual ditanam di pertanian tempat “pekerja Palestina dan Israel telah bekerja secara berdampingan selama bertahun-tahun.”
Namun PSC mengatakan, pernyataan itu sepenuhnya bohong. Sebab lahan pertanian itu berada di lingkungan pemukiman ilegal Yahudi, yang dibangun di atas tanah rakyat Palestina. Di samping itu, tidak ada kesetaraan antara pekerja Palestina dengan pekerja Israel, sebab orang-orang Palestina terpaksa harus bekerja di pertanian itu karena perekonomian mereka dihancurkan oleh Israel.
Para aktivis tersebut menjelaskan keadaan pertanian di pemukiman Israel, dengan mengutip sebuah dokumen yang dikeluarkan oleh kelompok HAM Israel Kav LaOved.
Berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan Kav LaOved, pemukiman Yahudi Israel dibangun di atas tanah-tanah hasil curian dan irigasinya menggunakan air curian, yang semuanya adalah milik orang Palestina.
Anak-anak Palestina berusia 12 tahun terpaksa bekerja di pertanian tersebut. Para pekerja Palestina di Israel mendapatkan bayaran 50% di bawah upah minimum setempat, bahkan banyak yang hanya mendapatkan beberapa sen dollar saja per jamnya. Mereka juga tidak mendapatkan uang pensiun, uang sakit, dan cuti/libur yang seharusnya dibayarkan.
Yang lebih parah lagi, para pekerja Palestia harus memiliki surat izin kerja, yang bisa dicabut apabila mereka mengeluhkan kondisi kerja atau meminta kenaikan upah. Sementara pekerja Israel tidak perlu memiliki surat tersebut.
Pekerja Palestina harus berjalan melewati pagar-pagar pembatas dan pos pemeriksaan Israel setiap harinya untuk menuju tempat kerja mereka dan ketika kembali ke rumah. Antrian para pekerja Palestina di pos penjagaan sudah mulai terlihat sejak pukul 2 tengah malam, tanpa ada tenda atau tempat naungan bagi mereka yang mengantri.
Sementara itu orang Israel bebas berjalan ke mana saja di wilayah Tepi Barat tanpa ada satu pun yang menghalangi mereka. Orang-orang itu bahkan menggunakan jalan yang dibuat khusus untuk mereka, yang tidak boleh lewati oleh orang Palestina.
Kampanye solidaritas Palestina selama sepekan itu dibarengi demonstrasi di luar toko milik jaringan supermarket tersebut. Mereka juga melakukan telepon massal yang terkoordinasi kepada para manajer toko pada hari Rabu. [di/im/hidayatullah.com]