Hidayatullah.com—Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan pengeboman di Aleppo timur yang membuat banyak jatuh korban sipil (termasuk wanita dan anak-anak) yang direbut kembali oleh pasukan pro rezim dari tangan kelompok pembebasan bulan lalu dianggal hal yang dibenarkan.
“Kadang-kadang inilah harga yang harus dibayar, tetapi pada akhirnya penduduk dibebaskan dari teroris,” kata Presiden Assad kepada media Prancis dan kemudian diterbitkan oleh kantor berita Suriah, Sana, pada Senin (09/01/2017) dikutip BBC.
Presiden Bashar al Assad dan sekutunya Rusia, Iran dan milisi Syiah sering menggunakan istilah “teroris” untuk menyebut milisi jihad dan kelompok pembebasan dari Sunni.
Gambar Bashar, Imam Syiah dan Pohon Natal Menghiasi Kota Aleppo
Ditambahkannya bahwa jatuhnya korban jiwa dari pihak penduduk sipil di Aleppo timur dan kerusakan yang terjadi akibat perang “memilukan bagi warga Suriah”.
Namun ia berkilah, “Apakah lebih baik membiarkan penduduk sipil berada di bawah kendali pembebasan, di bawah penindasan mereka, kepala mereka dipenggal, dibunuh?”
Ribuan warga sipil terjebak di beberapa distrik saja yang pada waktu itu masih dikuasai oleh pembebasan dan mereka mengalami pengeboman intensif ketika pasukan pemerintah bergerak masuk ke kota.
Rezim Bashar Lanjutkan Serangan, Oposisi Ancam Boikot Perundingan
PBB mengatakan serangan udara pasukan pemerintah Suriah dan sekutu-sekutunya di daerah padat penduduk ketika pertempuran mencapai tahap akhir di Aleppo timur mungkin tergolong kejahatan perang.
Pasukan Suriah dibantu oleh militer Rusia sejak 2015 dalam melawan kelompok-kelompok pembebasan, termasuk kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).
Kelompok pembebasan akhirnya mengambil alih Aleppo timur tiga pekan lalu sebagai bagian dari kesepakatan untuk memungkinkan penduduk sipil dan pembebasan berpindah ke wilayah yang masih dikuasai pembebasan di Suriah utara.
Jatuhnya Aleppo timur dianggap sebagai pukulan terberat bagi pihak pembebasan dalam perang selama hampir enam tahun.*