Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Jauhi Sifat Bohong

Ahmad
Terakhir diupdate: 10 Januari 2017 12:48 12:48 pm
Ahmad
Dipublikasikan 10 Januari 2017 12:48
Bagikan
Bagikan

BELAKANGAN ramai di ruang publik tentang berita bohong (hoax), baik di media sosial maupun di media massa.

Sebuah laman online mewartakan bahwa menulis berita palsu (hoax) memberikan keuntungan materi yang menggiurkan. Disebutkan oleh seorang reporter dari media asing bahwa penulis berita palsu bisa memperoleh penghasilan lebih dari 10 ribu dolar AS atau setara Rp. 135 juta per bulan.

Akan tetapi, kepalsuan, kebohongan atau hoax bukanlah hal yang mendatangkan maslahat. Oleh karena itu, sikap Islam terhadap hoax sangat jelas dan tegas, yakni melarang.

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).” (HR. Ahmad).

Allah Ta’ala menegaskan di dalam Al-Qur’an, siapa suka menyebarkan berita bohong, maka baginya siksa yang besar.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, maka baginya adzab yang besar.” (QS. An-Nur [24] 11).

Jangan Berbohong, Meski Untuk Melucu

Secara eksplisit ayat di atas menjelaskan perihal berita bohong yang dituduhkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul terhadap Aisyah Radhiyallahu Anha yang sempat mengguncangkan kehidupan Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam beserta seluruh keluarganya.

Jadi, orang yang berbicara tentang masalah ini dan menuduh Ummul Mukminin dengan tuduhan keji, berhak mendapat balasan berupa adzab yang besar, baik mereka yang memulai, atau pun yang mengumpulkan dan menyebarkan berita bohong tersebut.

Subhanallah, demikian sempurnanya ajaran Islam. Kegaduhan kehidupan di negeri ini tentang berita bohong pun telah terpapar dengan jelas dan menyeluruh, baik dari kasus sampai dampak dan bagaimana hukum Allah melihat berita bohong beserta para pelaku dengan beragam keterlibatan dalam penyebaran.

Dengan demikian, masalah berita bohong di dalam Islam bukan perkara sepele. Dan, karena itu harus benar-benar kita jauhi dalam kehidupan sehari-hari, sebab yang namanya adzab itu sudah pasti berat, apalagi Allah tegaskan dengan adzab yang besar.

Karena begitu pentingnya kita berhati-hati dalam dusta alias bohong, Allah menyandingkan bahaya keburukannya setelah dosa menyekutukan Allah Ta’ala.

“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj [22]: 30).

“Kalau Engkau Berbohong, Maka ini Sedekah untukmu”

Dalam tafsir Ibn Katsir dipertegas dengan hadits Rasulullah. “Maukah kalian aku bertitahukan tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?”

Kami menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Beliaupun melanjutkan, “Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”

Pada waktu itu beliau duduk dengan bersandar, lalu beliau duduk dengan tegak, lalu meneruskan sabdanya, “Hati-hatilah (terhadap) perkataan dusta dan sumpah palsu.” Beliau terus-menerus mengulang-ulanginya hingga kami berkata: “Semoga beliau diam” (HR. Bukhari Muslim).

Menistakan Diri Sendiri

Dengan demikian, jauhilah berbohong atau pun menyebarkan berita bohong. Sebab hal tersebut mendatangkan banyak kerugian. Terlebih jika berbohong sampai menjadi tabiat diri.

Cecil G. Osborne dalam bukunya “The arts of getting along with people” menjelaskan bahwa orang yang terbiasa berbohong tidak akan sadar bahwa ia berbohong.

Hukuman bagi pembohong adalah bahwa akhirnya mereka tidak dapat membedakan kebenaran dengan kesalahan dan percaya pada kebohongan mereka sendiri. Orang semacam ini memiliki perasaan rendah diri dan rasa tidak aman yang mendalam.

Pada akhirnya, itulah yang membuat ahli bohong semakin terjerumus pada kenistaan dengan semakin kuatnya bibit kemunafikan di dalam diri.

“Ciri orang munafik ada tiga, jika berbicara ia berbohong, jika berjanji maka tidak ditepati, dan jika dipercaya maka ia berkhianat.” (HR. Muslim).

Pembohong tidak bisa dipercaya. Bahkan, mereka yang lisannya berucap namun tidak dibuktikan dengan tindakan pun, sudah terkategori berbohong.

Imam Az-Zuhri meriwayatkan dari Abu Hurairah, “Barangsiapa berkata kepada anak kecil, ‘Kemarilah aku beri kurma,’ kemudian dia tidak memberinya, maka ini adalah bohong.”

Abdullah bin Amir meriwayatkan, “Rasulullah berkunjung ke rumah kami ketika aku masih kecil. Aku pergi keluar untuk bermain. Ibuku berkata, “Wahai Abdullah, kemarilah aku beri kamu sesuatu.”

Rasulullah bertanya, “Apa yang ingin kamu berikan kepadanya?” Ibuku menjawab, “Aku akan memberinya sebuah kurma.”

Maka Rasulullah bersabda, “Apabila kamu tidak memberikannya maka dicatat bagimu satu kebohngan.” (HR. Ahmad).

Lantas bagaimana jika yang dibuat seseorang adalah berita, informasi yang tidak benar alias bohong (hoax), kemudian itu disebarluaskan dan membentuk persepsi orang seperti tulisan bohong yang menyebar tersebut. Tentu tidak dapat kita bayangkan betapa beratnya dosa dan kenistaan diri yang akan Allah timpakan.

Selain akan menimbulkan keresahan di tengah kehidupan masyarakat, berbohong juga akan menghancurkan integritas dan kredibilitas diri dalam waktu yang amat panjang.

Di akhir zaman, salah satu tandanya adalah umat akan semakin bingung dengan informasi yang haq dan bathil. Bahkan saat ini, kata hoax justru dilontarkan kepada mereka yang selama ini paling sibuk mengeluarkan hoax alias kebohongan.

Semoga perilaku ini tidak ada di kalangan kaum muslimin yang masih punya iman. Pepatah mengatakan, “Sekali lancung keujian, seumur hidup orang tidak akan percaya.“ Semoga Allah menjaga kita dari sifat munafik yang gemar membuat atau menebar berita bohong. Wallahu a’lam.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berita bohongberita palsuhoaxMedia massamedia sosialMenjauhi sifat bohong
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dari Pekojan, Batavia, Berhimpun untuk Kebajikan
Tulisan selanjutnya Bashar al Assad Bolehkan Bom Aleppo

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?