Hidayatullah.com-Rezim Bashar al Assad telah secara membabi buta menarget warga sipil di Suriah utara. Seolah hanya memberi rakyat Suriah dua pilihan: mati karena bom atau mati kedinginan lapor TRT World pada 17 Februari 2020.
Serangan rezim di musim dingin terhadap Provinsi Idlib telah memaksa ratusan ribu orang meninggalkan rumah mereka. Mereka menuju wilayah terbuka utara di perbatasan Turki sejak Desember, berdampak besar pada anak-anak dan orang tua, banyak dari mereka yang mati kedinginan.
Turki telah mendesak Rusia, yang bersekutu dengan Damaskus, untuk menghentikan serangan rezim sesegera mungkin dan untuk memastikan genjatan senjata permanen di kawasan itu. Turki berjanji untuk mempertahankan pos pengamatannya, bertujuan untuk melindungi warga sipil di sana.
Shaza Barakat, aktivis Suriah di Idlib, berbicara pada TRT World, mengatakan kebijakan rezim Assad-Rusia terhadap anak-anak Suriah dan warga sipil lain adalah “kejahatan politik”. Dia mengatakan jalanan provinsi itu dipenuhi pengungsi yang “tidak dapat lari ke mana-mana”.
Hampir 300.000 orang yang kehilangan tempat tinggal dilaporkan adalah anak-anak. Jumlah pengungsi dan anak-anak diantara mereka bisa lebih banyak lagi, menurut sumber TRT World di Idlib, Suriah dan Gaziantep, Turki.
Abdul Selam al Sherif, yang bekerja untuk kelompok kemanusiaan IHH Turki berbasis di Gaziantep, dekat perbatasan Suriah, mengatakan setidaknya 800.000 orang terlantar dan 60 persen diantaranya adalah anak-anak.
“Saat ini cuaca sangat dingin dan berdampak pada anak-anak. Beberapa meninggal karena dingin ini. Kami telah mencatat kasus-kasus kematian anak-anak sebagai akibat dari dingin, yang juga dibagi melalui media sosial,” kata seorang anggota Hurras Network, sebuah kelompok kemanusiaan yang bekerja di Idlib.
“Anak-anak ini hidup dalam ketakutan, dan kehilangan segalanya, terutama makanan. Anak-anak ini juga meninggalkan sekolah mereka dan kehilangan hak mereka untuk pendidikan. Jadi ini adalah situasi untuk anak-anak dalam keadaan ini, itu sangat melelahkan,” kata anggota kelompok itu yang tidak ingin namanya disebutkan.
“Masalahnya adalah mereka telah meninggalkan rumah mereka di musim dingin yang membeku. Mereka keluar dari rumah mereka dan mereka tidak tahu ke mana mereka harus pergi. Anda akan menemukan banyak orang, duduk di mobil mereka selama beberapa hari, “kata Sherif kepada TRT World.
“Suhu kadang-kadang turun menjadi minus 7 atau minus 8 celcius di sana,” katanya.
Selain masalah musim dingin yang membeku dan menemukan tempat berlindung, para Pengungsi Internal (IDP) juga menghadapi kelaparan di jalan, kata Sherif. “Mereka membutuhkan air dan mereka perlu kamar mandi untuk digunakan.”
Bombardir rezim terhadap wilayah sipil telah menciptakan antrian panjang kendaraan sepanjang jalana utama dari Idlib ke Bab al Hawa, perbatasan yang menghubungkan Turki dan Suriah, kata Sherif. Karena Karena jumlah yang sangat besar, kelompok-kelompok kemanusiaan menjadi kekurangan dalam memenuhi kebutuhan IDP, menurut Sherif.
Rezim Assad dan sekutu Rusianya, yang mendukung Damaskus dalam serangannya, tidak peduli dengan korban sipil dan penderitaan mereka, berulangkali menggunakan genjatan senjata untuk merebut lebih banyak wilayah.
Ini adalah perhitungan politik yang kejam untuk memaksa warga sipil meninggalkan desa, kota, dan pusat kota mereka, membuka jalan bagi pasukan rezim untuk menyerang kelompok-kelompok oposisi tanpa hambatan. Itu telah menjadi kebijakan “kejahatan politik” selama perang saudara bagi Damaskus untuk merebut kembali wilayah-wilayah dari pasukan oposisi di seluruh negeri.
“Rekam jejak mereka sepanjang perang telah menunjukkan ini berkali-kali. Saya kira mereka tidak peduli tentang korban sipil dan, kadang-kadang, mereka bahkan menemukan mereka (warga sipil) berguna untuk kebijakan depopulasi mereka yang disengaja terhadap wilayah-wilayah di garis depan, “kata Elizabeth Tsurkov, seorang pakar terkait Suriah di Foreign Policy Research Institute.
“Perpindahan (atau pengungsian) ini menakutkan. Ini adalah pertama kalinya kita melihat gelombang sebesar ini sejak awal konflik. Selama perpindahan, orang-orang hanya pergi tanpa memastikan tempat untuk tinggal, mereka tidak tahu ke mana mereka pergi. Kadang-kadang mereka akhirnya tinggal bersama kerabat di kamp atau di tenda yang mereka beli, ”kata anggota Hurras Network.
Mayoritas pengungsi adalah wanita dan anak-anak. Mereka menghadapi suhu di bawah nol di kamp-kamp yang kotor dan dingin di dekat daerah dekat perbatasan Turki, menurut Sonia Khush, direktur Save the Children Syria Response.
“Mitra kami di lapangan memberi tahu kami bahwa mereka belum pernah melihat kecepatan dan skala perpindahan saat ini di Idlib sebelumnya. Konvoi kendaraan membentang sejauh mata memandang,” kata Khush.
“Kami menyerukan semua pihak dalam konflik untuk mengindahkan seruan gencatan senjata segera. Kehidupan ribuan perempuan dan anak-anak dipertaruhkan – ini mendesak dan penting.”*