Hidayatullah.com–Rabu (22/10/03) siang , PK Sejahtera dan segenap komponen umat Islam se-Jakarta menggelar demo menolah kedatangan Presiden AS George W. Bush. Aksi damai yang akan dipusatkan di Tugu Proklamasi, itu akan dipimpin langsung Ketua Umum PK Sejahtera Dr. Hidayat Nurwahid. Menurut rencana, acara itu juga dihadiri oleh cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid, Sekretaris Umum MUI Dien Syamsuddin, Ketua Umum Partai Pelopor Rachmawati Soekarnoputri, Wakil Ketua Komnas HAM Salahuddin Wahid, politikus Sophan Sopiaan, mantan koordinator Kontras Ori Rahman dan aktivis PK Sejahtera Kepada Antara, Ketua Partai Keadilan Sejahtera Suryama menyatakan, partainya menolak kedatangan Presiden AS ke Bali, Rabu, karena kedatangannya itu dimaksudkan untuk mengintimidasi Indonesia dan umat Islam Indonesia. “Kami menolak kedatangan Bush karena seperti informasi yang kami terima, Bush datang untuk mengintimidasi, terutama terkait masalah terorisme,” kata Suryama. Dikatakannya, kedatangan Bush ke Indonesia sama sekali tidak membawa manfaat bagi Indonesia, demikian juga rencana pertemuannya dengan tiga tokoh agama Islam. Kecuali Pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhid KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Ketua PP Muhammadiyah A Syafii Maarif dan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Azyumardi Azra bersedia bertemu Bush, Rabu. “Saya dapat memahami alasan kesediaan mereka bertemu Bush, tapi apalah artinya jika hanya diberi kesempatan berbicara lima menit,” kata Suryama. Tapi, tambah Suryama, ia yakin ketiga tokoh agama Islam tersebut pasti sudah tahu bahwa tidak akan ada yang dapat dipetik dari pertemuan dengan Bush, meski mereka memilih memenuhi undangan kepala negara adidaya itu. Demo Meluas Sekasa kemarin, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se- Yogyakarta menggelar aksi unjuk rasa menolak kedatangan Presiden AS George W Bush ke Indonesia di Bunderan UGM Yogyakarta. Aliansi BEM se-Yogyakarta itu terdiri atas Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dan Universitas Islam Indonesia (UII). Dalam aksi tersebut, selain berorasi, mereka juga membawa poster, di antaranya bertuliskan menolak kedatangan Bush di Indonesia, memutuskan hubungan diplomatik dengan AS, menyeret Bush ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat perang, dan menyekal tokoh masyarakat yang akan bertemu Bush. Selain BEM, seratus aktivis HMI MPO Cabang Yogyakarta menobatkan Presiden AS George W Bush sebagai “Bapak Teroris Dunia”. Sementara itu, di Surabaya, sekitar pukul 13.30 kemarin, kantor Konjen AS di Jalan Dr Soetomo, Surabaya didemo aktivis mahasisiswa Islam. Sekitar 200 orang dari Front Pembela Islam Surabaya (FPIS) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menolak kedatangan Bush ke Bali. Sebelumnya, sejumlah elemen Islam di Solo, aktivis Islam dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Front Pembela Islam (FPI) telah melakukan hal serupa. MMI menilai, Bush secara terang-terangan telah mengobarkan ‘perang Salib’. Kemarin, kedatangan Bush ke negeri Thailand telah memicu demonstrasi para aktivis. Sekitar 2.000 aktivis membentangkan spanduk antiperang dan antiglobalisasi. Sebagian spanduk jelas-jelas menolak Bush dan AS. Bunyi spanduk mereka antara lain berbungi, ‘Amerika, Sumbu Setan’, ‘Bush, Pulanglah’, ‘Tentara Amerika, Keluarlah dari Iraq’. Selain mendapat penolakan di Thailand, kunjungan Bush ke Filipina juga ditolak masyarakat. Para pengunjukrasa menggelar aksi menolak Bush, saat tokoh nomor satu di balik serangan ke Iraq itu datang. Sebagian mereka membakar bendera AS. Unjuk rasa menolak Bush dan kebijakannya juga terjadi di Korea Selatan. Massa yang berkumpul di Kota Sungnam itu sempat bentrok dengan aparat keamanan, dan sebagian mereka ditangkap. Pesan utama yang mereka sampaikan adalah menyesalkan sikap pemerintahnya mengirim pasukan ke Iraq untuk mendukung AS. Di Sydney, Australia, ribuan pengunjuk rasa membawa patung-patung Bush. Salah satu patung yang mereka bawa menggambarkan Bush sedang mengendalikan Perdana Menteri Australia, John Howard. Indonesianis Jeffrey Winters dari Universitas Northwestern, Chicago, AS , kepada Radio Nederland mengatakan, kedatangan Bush ke Bali karena ketidakberanian tokoh nomor satu AS itu menanggung resiko didemontrasi secara besar-besaran oleh kalangan Islam. “Tetapi salah satu alasan kenapa Bush mau ke Bali, dari pada ke Jakarta, dia tidak mau menghadapi demo-demo yang pasti agak besar kalau dia ke Jakarta, ” ujar Jefry. (ant/ap/rep/cha)