Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Kunjungan Bush Hanya Kampanye Kepentingan AS

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Oktober 2003 21:08 9:08 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Oktober 2003 21:08
Bagikan
Bagikan

Jeffrey Winters [JW]: Dia pada saat berperang di Irak dan dia ingin dukungan dunia semaksimal mungkin untuk perangnya dan foreign policynya (kebijakan luar negerinya, red), dia kunjungi jemaah Islam yang paling besar di dunia. Dan daripada dia pergi ke Jakarta, dia malah pergi ke pulau Hindu. Pampresnya sebenarnya menolak.

Radio Nederland [RN]: Tetapi, kalau saya tidak salah, waktu itu, Presiden Reagan kan juga begitu? Ketemu Soeharto di Bali dan bukan di Jakarta. Jadi maksud saya ini ciri khas orang-orang partai Republik.

JW: (Tertawa). Betul Reagan memang ke Bali. Tetapi sebenarnya yang lebih tepat, kalau Bush mau ketemu dan pasarkan foreign policynya (kebijakan luar negerinya, red) ke orang Indonesia, mungkin lebih baik ke pusatnya, ke Jakarta daripada ke Bali. Tetapi salah satu alasan kenapa Bush mau ke Bali, daripada ke Jakarta, dia tidak mau menghadapi demo-demo yang pasti agak besar kalau dia ke Jakarta.

RN: Anda tadi mengatakan ya bahwa pampresnya tidak setuju kalau Bush ke Indonesia, makanya dipilih Bali begitu, sebenarnya kenapa sih menurut anda Bush kok masih tetep ingin ke Indonesia?

JW: Jangan lupa belum lama ini ada semacam polling (jajak pendapat, red) internasional dari Gedung Putih dan juga dari Congress. Ada sekelompok orang bicara dengan banyak negara, mereka interview orang, termasuk di Indonesia, mengenai pandangan mereka tentang Amerika Serikat. Dan ternyata hasilnya sangat mengejutkan untuk Gedung Putih bahwa seluruh dunia itu marah sekali dengan Amerika Serikat. Panas kemarahannya ya.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Yang menarik kesimpulannya di Gedung Putih adalah kita kurang berkomunikasi. Jadi mereka salah faham. Tetapi itu punya asumsi bahwa orang di seluruh dunia ini enggak paham, tetapi justru mereka paham. Mereka tidak suka policynya (kebijakannya, red.). Mereka tidak bingung, tidak bodoh.

Selama di Bali Bush akan ketemu sekelompok orang Islam moderat. Mudah-mudahan dia dengar kenapa persisnya rakyat Indonesia atau rakyat negara lain di Asia itu menolak foreign policy (kebijakan luar negeri, red.) Amerika Serikat.

RN: Indonesia sebaiknya bersikap apa dalam menghadapi Bush yang berkunjung ke Bali ini?

JW: Sebaiknya sampaikan pesan juga bahwa tidak tepat waktunya untuk buka hubungan erat lagi dengan TNI. Karena walau pun Bush dan Pentagon ingin dekat dengan TNI karena alasan security (keamanan, red) yaitu untuk menghadapi terorisme, TNI ini belum direformasikan. Jadi ini masih tetap TNI yang ada darah di tangannya dan belum ada yang diadili. Walau pun memang bener, Amerika Serikat harus punya hubungan dengan security forces (aparat keamanan, red.) di Asia Tenggara, jangan berpeluk erat dengan institusi yang belum reformasi dan melawan reformasi selama ini. Kalau perlu tunggu aja. Dan itu memang sikapnya Congress di Amerika Serikat.

RN: Tapi Amerika dalam perang melawan terorisme ini kenapa lebih banyak berhubungan dengan TNI, kok tidak dengan unsur-unsur Islamnya?

JW: Ada upaya dari Kedutaan. Buka hubungan dengan umat Islam di Indonesia, bahwa ini perang anti orang tertentu, bukan anti suatu agama. Islam yang riil, Islam yang murni itu yang diikuti oleh kebanyakan orang Indonesia. Makanya kebanyakan orang Indonesia tidak mau menjadi teroris.

RN: Lalu bagaimana dari segi ekonomi, menurut anda apakah Amerika masih punya peran di Indonesia?

JW: Ya masih ada. Tetapi kita lihat juga bahwa investasi dari Amerika Serikat, sejak 1997/1998, sejak awal krisisnya, menurun. Dan setiap tahun secara netto itu negatif. Indonesia sekarang tidak bisa menciptakan iklim investasi yang ada kepastian. Kepastian hukum, kepastian security (keamanan, red.) ndak ada.

Dan korupsi sama sekali tidak dihentikan, tapi justru ditingkatkan. Sifat korupsinya berbeda dengan korupsinya di bawah Soeharto. Ini contoh yang sederhana saja. Orang bisnis bilang begini. Memang selama orde baru sistemnya tidak transparan. Itu seperti kita ada di ruang yang gelap. Dindingnya segi empat ya. Jadi kalau mereka pegang dindingnya, mereka tahu ada di mana. Sekarang mereka merasa seperti ada di dalam ruang yang gelap tetapi dindingnya bunder. Jadi pegang-pegang enggak tahu ada di mana. Jadi tidak ada kepastian sama sekali. Itu situasi yang ada di Indonesia sekarang.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gedung Putih Peringatkan Mahathir Soal Yahudi
Tulisan selanjutnya Aksi Bersama Tolak Bush Di Tugu Proklamasi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?