Hidayatullah.com—Deliar Noer menghembuskan nafasnya yang terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Rabu (18/6) siang, sekitar pukul 13.40 WIB. Jenazah kini sedang diurus untuk dibawa ke rumah duka di Jalan Swadaya Raya No 7-9 Duren Sawit Jakarta Timur.
Lelaki kelahiran Medan Kota, Sumatera Utara, 82 tahun ini adalah doktor bidang ilmu politik pertama Indonesia. Bersama-sama dengan Prof Miriam Budiardjo, ia juga orang pertama yang dianggap meletakkan dasar-dasar pengembangan ilmu politik di Indonesia.
Lahir di Medan, 9 Pebruari 1926, almarhum dikenal sebagai seorang dosen, pemikir, peneliti dan penulis buku-buku gerakan politik Islam. Deliar pernah mendirikan dan menjadi Ketua Umum Partai Ummat Islam (PUI), sebagai usaha membangunkan kembali ide-ide partai Masyumi.
Dalam Harian Republika, ia pernah mengatakan, “Syariat Islam perlu ditegakkan di negeri ini secara resmi, melalui peraturan perundang-undangan. Penegakan syari’at tersebut tidak bisa mengabaikan simbolisme. Substansi memang penting, namun simbol juga perlu. Simbol bisa menggembirakan, menumbuhkan kebangaan dan memudahkan pemahaman pada masyarakat awam,” ujarnya.
Buku “Gerakan Modern Islam di Indonesia” dan “Mohammad Hatta: Biografi Politik”, dijadikan rujukan ilmuwan Indonesia, khususnya mengkaji gerakan politik Islam di Indonesia. Buku “Gerakan Modern Islam” merupakan disertasinya di Universitas Cornell. Sementara buku Mohammad Hatta pernah terpilih sebagai buku terbaik Yayasan Buku Utama tahun 2002.
Banyak buku-buku karya Deliar. Diantaranya; Adiministrasi Islam di Indonesia; Partai Islam di Pentas Nasional; Ideologi, Politik, dan Pembangunan; Islam, Pancasila, dan Asas Tunggal; dan Bunga Rampai dari Negeri Kanguru. Juga buku teks Pengantar ke Pemikiran Politik dan Pemikiran Politik di Negeri Barat. [cha, berbagai sumber/hidayatullah.com]