Hidayatullah.com–Sjahril Djohan, orang yang diduga menjadi makelar kasus (markus) di kepolisian, mulai dimintai keterangan sebagai saksi oleh tim penyidik independen Polri di gedung utama Mabes Polri, Jakarta, Selasa sore.
Meski baru pemeriksaan awal, Sjahril sudah “buka-bukaan”. Dalam keterangannya, Sjahril mengakui ada aliran dana kepada sejumlah perwira Polri terkait kasus mafia pajak.
“Ya, ada aliran dana ke sejumlah perwira,” kata Kepala Pusat Pengamanan Internal Divisi Propam (Kapuspaminal) Mabes Polri Kombes Pol Budi Wasesa kepada wartawan, Selasa (13/4) malam.
Budi mengatakan, pemeriksaan terhadap Sjahril nantinya juga bisa menjadi dasar bagi pemeriksaan oleh Divisi Propam terhadap anggota Polri yang terlibat. “Dari Sjahril Djohan kita bisa tahu ke mana saja uang itu. Ke A, B, atau C, tapi ini baru pengucapan sepihak Sjahril Djohan. Sama seperti kasus Gayus, Haposan, dan Andi Kosasih. Namun, tidak ada data autentik. Kita cari tahu, apakah ada saksi atau apa yang menguatkan dalam penyerahan itu,” ucap Budi Wasesa.
Rencananya Sjahril akan dikonfrontasi dengan empat tersangka markus pajak lainnya. Namun, karena sudah larut malam, tampaknya rencana itu akan sulit dilakukan. “Ada rencana, tapi ini sudah malam. Kalau sudah malam, kan capek,” ujarnya.
Mantan Intel
Nama Sjahrir Djohan mencuat sejak pertemuan tertutup antara Komisaris Jenderal Susno Duadji dengan Komisi III Bidang Hukum DPR, pada Kamis 8 April lalu. Susno mendatangi DPR untuk mengadu dan meminta perlindungan hukum-politik. Susno menyebut kasus baru, mafia perusahaan Arwana di Pekanbaru, Riau.
Susno bahkan mengatakan dalam kasus mafia Arwana ini terdapat makelar kasus alias markus yang sama dengan kasus pajak Gayus Tambunan. Mr X pun disebut Susno. Akhirnya dalam pertemuan tertutup, Susno menyebut nama Mr X itu alias SJ.
“Menurut Susno, Mr X yang berinisial SJ itu mantan orang Deplu (Departemen Luar Negeri),” kata anggota Komisi III DPR Nasir Jamil.
Siapa sesungguhnya Sjahrir Djohan? Syahril lahir di Jakarta, 5 Oktober 1945. Pria yang santer disebut makelar kasus di tubuh Polri itu, mengawali kariernya sebagai intel dalam Satgas Suslu Laksus Kopkamtib Bidang Luar Negeri tahun 1971-1973.
Menurut penelusuran Metro TV, Syahril Djohan telah malang-melintang di kejaksaan dan kepolisian sejak lama. Dialah di belakang rekayasa kasus Gayus Tambunan. Terakhir, Syahril disebut-sebut sebagai sutradara di belakang kasus yang lebih besar: skandal peternakan ikan arwana di Pekanbaru, Riau.
Syahril adalah mantan diplomat. Di kepolisian, Syahril bekerja resmi karena diangkat sebagai tenaga ahli. Sejak kecil Syahril tinggal di Belanda. Ia pernah melobi Pemerintah Australia untuk mengekstradisi Hendra Rahardja, terdakwa kasus BLBI. Namun, esktradrisi terhambat hingga Hendra Rahardja meninggal di negeri Kanguru itu.
Di antara petinggi Polri, Syahril amat dekat dengan Susno Duadji, kemudian mantan Wakil Kapolri Komisaris Jenderal (Purn) Makbul Padmanagara. “Dengan Susno ia bisa bercanda dan ngomong apapun. Dengan Makbul masih ada batas. Dengan Susno itu seperti kakak-adik. Susno dianggap adik. Makbul masih seperti sahabat,” kata Harry Hupudio, sahabat Syahril Djohan dikutip Metro.
Ia juga pernah malang-melintang di sejumlah kurun pemerintahan. Pada kurun waktu 1973 hingga 1976 ia menjabat Kepala Seksi II Direktorat Investigasi Khusus Direktorat Jenderal Hubungan Ekonomi Luar Negeri pada Departemen Luar Negeri. Syahril juga pernah menjadi Sekretaris pada Kepala Seksi Ekonomi di Kedutaan Indonesia di Swiss tahun 1976-198.
Di era Jaksa Agung Marzuki Darusman, Syahril Djohan dipercaya sebagai pembantu khusus Jaksa Agung. Di lingkungan Mabes Polri, Syahril Djohan pernah menjabat sebagai Penasihat Ahli Fungsional Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba dan Kejahatan Terorganisir Bareskrim Mabes Polri. [ant/vn/mtr/hidayatullah.com]