Hidayatullah.com–Mantan anggota DPR-RI Permadi meyakini isu terorisme sebagai masalah politik yang sengaja didesain agar Indonesia mengalami kehancuran, bukan sekadar masalah sekelompok muslim radikal yang ingin membalas perlakuan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap kaum muslimin di belahan dunia lain.
“Isu terorisme itu masalah politik, ada kekuatan politik tertentu yang memainkan agar Indonesia jadi kacau balau,” kata Permadi pada acara Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) bertema ‘Proyek Deradikalisasi Islam untuk Siapa?”, Rabu (24/11) di Gedung Intiland Jl. Jend.Sudirman, Jakarta.
Tambahnya lagi, jika persoalan terorisme memang sebatas kegiatan ideologis balas dendam orang per orang, seharusnya aksi-aksi tersebut merespon pula kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh negara-negara tetangga terhadap para TKI yang umumnya muslim.
“Para pelaku teror tidak pernah mempersoalkan kekerasan terhadap tenaga kerja kita, ini membuktikan persoalan terorisme ada unsur politik yang bermain dan memeliharanya,” ungkap politisi yang dulu berasal dari PDI-P ini.
Ia percaya bahwa isu teror memang dibuat untuk proyek tertentu, bukan terjadi secara begitu saja, serta bukan riil dilakukan umat Islam.
“Ini rekayasa dan fabrikasi pejabat-pejabat Indonesia sendiri untuk mencari pekerjaan, bukan dilakukan oleh umat Islam riil.”
Permadi melihat, aksi-aksi peledakan bom yang terjadi selama ini sebagai upaya menghancurkan dominasi Amerika di Indonesia dan upaya merusak pariwisata Indonesia.
“Ini aksi menghancurkan dominasi Amerika dan upaya membuat pariwisata kita hancur. Jadi jelas unsur politik sangat kuat bermainnya,” paparnya.
Penyataan Permadi sedikit dibantah oleh Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath yang meyakini isu terorisme justru dilakukan oleh Amerika sendiri untuk memberi pengaruh di Indonesia.
“Isu teror itu justru diciptakan oleh Amerika untuk mendominasi Indonesia,” kata Al Khaththath.
Sedangkan mengomentari definisi radikalisasi, menurut Permadi, adalah upaya pemberangusan pemikiran-pemikiran fanatik di kelompok Islam, bukan kepada umat Islam secara keseluruhan.
“Deradikalisasi itu dilakukan kepada tokoh-tokoh umat Islam yang fanatik agar jinak dan tidak macam-macam,” ucap Permadi. [bil/hidayatullah.com]