Hidayatullah.com–Jemaah Ahmadiyah masih bisa berkelit. Melalui Amir Nasional Pengurus Besar Ahmadiyah Abdul Basit, ia mengatakan keberadaannya sejak hadir di Indonesia, mulai tahun 1923. Ia juga menolak disebut aliran ekslusif.
“Kesan ekslusif itu tidak ada. Jemaat Ahmadiyah berbaur bersama masyarakat,” kata Basit dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi VIII DPR RI di gedung DPR, Jakarta, Rabu (16/2) malam.
Selain itu, Ahmadiyah juga mengklaim perbedaan aliran Ahmadiyah dengan Islam hanya pada sosok Imam Mahdi.
Menurut Basit, Ahmadiyah meyakini sosok pemimpin Islam akhir zaman itu adalah imam besar mereka Mirza Ghulam Ahmad.
Menurutnya pendiri Ahmadiyah adalah pengikut Muhammad SAW. Tidak ada pengurangan dan penambahan dalam mengamalkan apa yang diajarkan Muhammad SAW.
Basit juga mempertanyakan usulan dari berbagai pihak agar Ahmadiyah dijadikan agama baru. Padahal, kata Basit, jemaat Ahmadiyah berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karenanya, jemaat Ahmadiyah menolak tegas usulan itu.
Pada kesempatan ini Basit juga mengatakan bahwa kontribusi jemaat Ahmadiyah terhadap bangsa ini sangat besar. Ahmadiyah juga mengklaim banyak tokohnya berperan dalam kemerdekaan Indonesia.
WR. Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya, diakui Basit sebagai kader Ahmadiyah. Selain itu, Basit juga menyebut nama Maulana Sayid Syah Muhammad, seorang mubaligh Ahmadiyah, yang diklaimnya selalu mendampingi Presiden Soekarno dalam menyusun proklamasi.
Dalam kondisi kekinian, Basit mengklaim bahwa jemaat Ahmadiyah adalah komunitas pendonor darah terbesar di Indonesia.
Selain Basit, dalam RDPU ini hadir pula sejumlah tokoh Ahmadiyah Indonesia. Seperti Zafrullah Ahmad Pontoh, Juru Bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).
Pembelaan Basit ini rupanya berbeda dengan para ulama seluruh dunia yang menganggap Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Para ulama berpendapat, kumpulan wahyu Ahmadiyah termuat lengkap dalam kitab Tadzkirah di mana mensejajarkan imamnya dengan Nabi Daud as, Musa as, Isa as dan Muhammad saw. *