Hidayatullah.com–Abu Tholut akui membeli sejumlah senjata pada Abdullah Sonata, tetapi menampik jika senjata itu berkaitan dengan kasus pelatihan Aceh. Senjata tersebut dibelinya untuk kesenangan pribadi, yang memang sudah akrab dengan senjata sejak di Afghanistan.
“Saya memang menyukai senjata api, ini tidak ada hubungannya dengan Aceh,” kata Abu Tholut di sela-sela persidangannya dalam agenda pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Jakarta Barat, Senin (8/8).
Hal itu dipertegas lagi dengan memilih senjata paling terbaru untuk disimpan ketika ia dalam DPO aparat kepolisian karena dianggap bertanggung jawab dalam pelatihan militer di Aceh.
“Saya memang suka dengan senjata, makanya saya membawa senjata bukan yang jadul,” ujar Abu Tholut kepada majelis Hakim.
Ia juga menjelaskan, sejak awal tidak melibatkan diri dengan pelatihan militer di Aceh, karena berselisih faham dengan Dulmatin. Perselisihan itu timbul karena kondisi Aceh yang diceritakan oleh Dulmatin berbeda ketika diadakan survei. Dalam pertemuan di Jakarta selanjutnya ia membatalkan program tersebut.
“Saya berbeda pendapat dengan Dulmatin, ketika di Polu Gadung sudah saya sampaikan kepadanya,” tutur Abu Tholut yang pernah dipidana karena kepemilikan senjata api secara ilegal pula pada tahun 2003.
Tambah Abu tholut, perbedaan pendapat meruncing ketika Dulmatin melibatkan orang-orang dari luar Aceh, untuk terlibat dalam program pembinaan di Aceh.
“Dulmatin mengajak teman-teman dari Jawa, itu yang membuat saya semakin tidak setuju dengan program Aceh,” ungkapnya.
Kata Abu Tholut, Dulmatin menjalankan programnya sendiri tanpa sepengetahuan ia.
Sidang Abu Tholut ditunda hingga Senin depan, dengan agenda tuntutan oleh jaksa penuntut umum.*




