Hidayatullah.com— Acara 10th Q! Film Festival, sebuah festival film yang mengangkat dan mengkampanyekan wacana lesbian, gay, bisexual, dan transgender (LGBT) telah berlangsung enam hari sejak dibuka pada hari Jumat malam, (01/10/2011) lalu.
Acara pembukaan diselenggarakan di Perpustakaan Nasional di Jakarta Pusat dibuat sepi promosi. Pihak panita penyelenggara khawatir acara akan mendapat reaksi Front Pembela Islam (FPI), mengingat pengalaman buruk sebelumnya di mana organisasi ini telah memperotesnya tahun 2010 lalu.
“Saya sedang dalam perjalanan ketika menerima pesan SMS dari beberapa teman yang mengatakan bahwa FPI itu memprotes di depan Goethe-Haus,” ujar Jeffrey Sirie, kepada thejakartaglobe.com saat menghadiri malam pembukaan festival tersebut.
“Mereka mengatakan kepada saya untuk tidak datang,” ujar Jeffrey mengingat aksi Front Pembela Islam (FPI) setahun lalu.
Untuk menghindari kasus sebagaimana kasus tahun lalu, pihak panitia penyelenggara ditugaskan memasang iklan seminim mungkin dan tidak menunjukkan poster atau spanduk di tempat acara. Mereka juga telah mempersulit pengunjung untuk mengakses jadwal film di situs web kelompok ini yang beralamat di www.q-munity.org, dengan cara meminta alamat e-mail, menerbitkan password dan meminta pengguna untuk menyetujui syarat sebelum memasuki situsnya .
Panitia juga kelihatan menghindari peliputan media sebelum acara pembukaan.
Untuk peserta seperti Jeffrey, suasana tenang itu tidak hanya mengecewakan bagi komunitas LGBT, tetapi juga sebuah komentar putus asa pada keadaan hak asasi manusia di negara itu.
Tiga tahun lalu, festival ini diadakan di bioskop lokal. Untuk tahun ini, acara akan disebar di berbagai tempat budaya.
Menurut John Badalu, pendiri organisasi Q-Munity berharap agar di masa depan, festival seperti ini akan mampu menjangkau khalayak lebih luas, termasuk masyarakat kelas bawah.
Meninaputri Wismurti, mantan wartawan majalah remaja Gadis, mengatakan proses untuk memilih film untuk festival tahun ini dimulai pada Februari. Beberapa pemutaran akan disertai dengan diskusi dengan pembuat film dan Kontras, sebuah kelompok yang berfokus mempromosikan hak asasi manusia (HAM), katanya.
Rusli Eddy, penyelenggara festival film dan mendukung Q! Film Festival sejak tahun 2002, mengatakan acara seperti ini harus terus berjalan, meskipun ada kontroversi.
“Ini adalah festival yang merayakan perbedaan dan toleransi. Tidak peduli seberapa besar atau kecil, perlu untuk terus ditunjukkan pada masyarakat, “ujar Rusli dikutip theJakartaglobe.
Sebagaimana dikutip laman salihara.org, untuk mengembangkan jangkauannya, sejak beberapa tahun yang lalu, film-film seperti ini telah diputar di lebih dari 10 kota di Indonesia dan mengadakan berbagai program lain seperti pameran seni rupa, penerbitan buku dan workshop film.
Saat ini, Q! Film Festival merupakan festival film bertema lesbian dan gay (LGBT) terbesar di Asia.
Selain diputar di Salihara, Q! Film Festival juga akan dilaksanakan di CCF Salemba, Erasmus Huis, ruangrupa, Kontras, Kineforum dan Galeri Foto Jurnalistik Antara.
Dipolisikan
Tahun lalu, FPI sempat mempolisikan komunitas Q-Munity, komunitas gay, yang juga penyelengara Q! Film Festival tahun 2010 ke Polda Metro Jaya (PMJ). FPI melaporkan komunitas ini karena mereka diduga menayangkan film yang bernuansa pornografi.
“Apa yang disebarkan Q-Munity dalam acara Q! Film Festival berbau persenggamaan yang tidak wajar dan mengandung pornografi. Kita punya bukti CD-nya dan melaporkan secara hukum,” kata Kepala Bidang Advokasi DPP FPI Munarman di Mapolda, Jumat (1/10/2010), seperti dikutip Media Indonesia Online.
Mantan Ketua LBH Jakarta itu didampingi Ketua DPD FPI Jakarta, Habib Salim Alatas yang melaporkan Q-munity ke Sentra Pelayanan Kepolisan (SPK) Polda Metro Jaya.
Rencananya, festival ini masih akan berjalan sampai hari Sabtu, (07/10/2011) depan.*
Foto: theJakartaGlobe