Hidayatullah.com— Budaya mistik sering digambarkan orang mewarnai kehidupan istana. Kisah hubungan istana dengan dunia klenik (baca perdukunan) bahkan ditengarai terjadi sejak zaman Bung Karno hingga presiden terakhir, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Belakangan ini, masyarakat mengaitkan hubungan resuffle para menteri dan pemilihan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II dengan isu klenik.
Entah karena sebuah kebetulan atau tidak, enam menteri Kabinet Indonesia Bersatu I yang dicopot Presiden SBY adalah menteri kelahiran bulan Oktober.
Misalnya Menteri BUMN Mustafa Abubakar. Pria kelahiran Pidie, Aceh yang diganti oleh mantan bos Jawa Pos, Dahlan Iskan itu adalah kelahiran 15 Oktober 1949.
Sedang Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa asal Mataram, NTB, yang mengundurkan diri dan diganti oleh Djan Faridz, adalah kelahiran 31 Oktober 1954.
Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar kelahiran Padang, yang diganti oleh Amir Syamsuddin, adalah kelahiran 31 Oktober 1958.
Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh kelahiran Riau yang diganti mantan Menteri Pariwisata Jero Wacik, adalah kelaihtan 29 Oktober 1960.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, yang mengganti kedudukan Jero Wacik, kelahiran 23 Oktober 1956.
Sedang Menteri Perhubungan Freddy Numberi, yang namanya tidak masuk dalam bursa KIB II, adalah kelahiran Yapen Waropen, Papua, 15 Oktober 1947.
Apakah ini sebuah kebetulan belaka?
Seorang paranormal yang kerap masuk TV, Ki Joko Bodo punya pandangan lain. Menurutnya, Presiden SBY menggeser para menteri kelahiran Oktober karena bulan itu diyakini tidak membawa keberuntungan.
“Presiden SBY memiliki keyakinan spiritual bahwa (kelahiran bulan) Oktober tidak membawa untung. Malah bikin kabinet sial,” ujar paranormal nyentrik s eperti dikutip Rakyat Merdeka Online, Selasa siang, (18/10/2011).
Benar atau tidaknya kesimpulan ini, hanya SBY dan Allah swt yang tahu.
Hanya yang perlu diketahui, Islam sangat melarang thiyarah. Thiyarah adalah meramalkan keberuntungan dan kesialan dengan sesuatu hal atau kejadian. Jika dengan sebab thiyarah ini seorang Muslim lantas mendatangi dukun maka dia berhadapan dengan 2 (dua) ancaman. Tidak diterima sholatnya selama 40 (empat puluh) hari atau yang lebih fatal lagi dianggap kufur.*