Hidayatullah.com–Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menjelaskan betapa vitalnya kejatuhan Bashar Al Assad sebagai titik pembebasan Al-Aqsha, dimana ia juga mengutip sejarah Shalahudin Alayubi ketika membebaskan Al-Aqsha, Shalahuddin terlebih dahulu memfokuskan untuk membebaskan Masjid Umawi di Suriah dari cengkeraman Syiah Fatimiyah. Pernyataan diungkapkan Fahmi Salim Lc dalam kegiatan “Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) Peduli Suriah di gedung AQL Islamic Center pada hari Sabtu (06/07/2012).
Menurutnya, Masjid Umawi adalah mercusuar Islam yang sangat vital bagi penyatuan politik yuridis negara-negara Islam di tanah Syam yang pernah dilakukan oleh Shahaludin Alayubi yang mencakup Palestina, Suriah, Libanon dan Yordania.
“Dan itu hanya bisa dilakukan oleh kalangan ahlussunnah, ” tegasnya.
Fahmi menambahkan, saat ini sejak masjid Umawi dikuasai Rezim Al Assad sejak tahun 67 ketika terjadi perjanjian politis mengenai Dataran Tinggi Golan antara Suriah dan Israel, Masjid Umawi sudah jauh dari nilai-nilai ahlussunnah, bahkan ritual-ritual Karbala sering dilakukan di dalam Masjid bersejarah ini.
“Saat ini ritual-ritual Syiah sudah banyak dilakukan di dalam masjid Umawi,” jelasnya memaparkan kondisi terkini masjid yang dibangun oleh Khalifah Bani Umayyah tersebut.
Fahmi mengutip informasi dari Syeikh Raid Sholah, seorang tokoh ulama Palestina dan ketua Harakah Islamiyah Palestina yang merupakan anggota Palestina 48.
Dari informasi Sheikh Raid Sholah tersebut menjelaskan dalam sejarah, sejak ditanda tanganinya perjanjian mengenai Dataran Tinggi Golan, tidak ada sejarahnya Suriah memerangi Israel di bawah kepemimpinan Rezim Al Assad.
Bahkan fakta terbaru dari Raid Sholah, terungkap senjata-senjata dari para tentara pendukung Bashar Al Assad, adalah senjata dan peluru yang sama yang digunakan oleh tentara Israel saat membantai pengungsi Shabra Shatillah pada tahun 1982. Semua senjata tersebut merupakan Made In Israel (buatan Israel).*